Rokat Tase’

URL Cerital Digital: https://www.detik.com/jatim/budaya/d-7070649/rokat-tase-tradisi-tolak-bala-sekaligus-wujud-syukur-nelayan-madura/amp

Di balik deburan ombak dan hamparan biru laut Madura, hidup sebuah tradisi tua yang diwariskan turun-temurun oleh para nelayan. Tradisi itu disebut Rokat Tase’, sebuah ritual penuh doa dan sesajen yang dilakukan untuk menolak bala, memohon keselamatan, serta memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dari lautan.

Pada suatu masa, ketika kehidupan masyarakat Madura sangat bergantung pada hasil laut, para nelayan percaya bahwa laut bukan hanya hamparan air asin yang luas, melainkan juga sebuah dunia yang dihuni oleh kekuatan gaib. Laut dipandang sebagai sahabat yang memberi rezeki sekaligus sebagai tempat yang harus dihormati. Dari keyakinan itulah lahir sebuah tradisi yang disebut Rokat Tase’, atau selamatan laut, yang terus dijaga hingga kini.

Ritual ini biasanya dilaksanakan setiap tanggal sebelas bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Pagi itu, suasana desa nelayan terasa berbeda. Perahu-perahu dihias indah dengan janur, bendera warna-warni, dan kain-kain cerah yang berkibar tertiup angin. Para ibu sibuk menyiapkan sesajen berupa tumpeng nasi, aneka lauk pauk, buah-buahan, kue tradisional, dan tak lupa air kelapa yang melambangkan kesucian. Semua sesajen itu akan dihanyutkan ke laut sebagai persembahan, sebuah simbol tolak bala agar para nelayan selalu selamat dalam mencari nafkah.

Ketika matahari mulai meninggi, nelayan dan masyarakat berkumpul di tepi pantai. Doa-doa dilantunkan, suara para tokoh agama dan sesepuh desa menyatu dengan gemuruh ombak yang berdebur ke pantai. Sesajen diletakkan di perahu utama, lalu perlahan-lahan dibawa ke tengah laut. Di sana, sesajen dihanyutkan ke air, seolah-olah laut menerima persembahan itu dengan damai. Masyarakat percaya bahwa dengan memberikan sesajen tersebut, bala akan menjauh, penyakit dan marabahaya tidak akan mengganggu, dan hasil tangkapan ikan akan melimpah.

Namun lebih dari sekadar ritual, Rokat Tase’ juga menjadi pesta kebersamaan. Setelah prosesi sakral selesai, masyarakat bergembira dengan musik tradisional, tari-tarian, serta jamuan bersama. Tua dan muda berkumpul, saling berbagi makanan dan cerita, merayakan kebersamaan yang erat dengan alam.

Di balik maknanya, Rokat Tase’ adalah cermin dari filosofi hidup orang Madura. Bahwa laut harus dihormati, bahwa rezeki adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, dan bahwa keselamatan adalah sesuatu yang patut dijaga dengan doa, usaha, serta rasa syukur. Sesajen yang dihanyutkan bukan sekadar makanan, melainkan simbol tolak bala yang menyatukan doa dan harapan seluruh masyarakat pesisir.

Hingga hari ini, setiap kali bulan Suro tiba, masyarakat Madura masih menjaga tradisi itu. Laut pun seakan tersenyum, memberikan hasil tangkapan yang melimpah sebagai jawaban atas doa dan sesajen yang dengan tulus dihaturkan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.