Desa Sotabar

URL Cerital Digital: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/2306/1/Antologi%20Cerita%20Rakyat%20Jawa%20Timur.pdf

Di ujung tanah pulau Madura, terdapat dua kampung yang pada mulanya hidup dalam keterbatasan namun penuh kehangatan. Kampung kecil yang dipimpin oleh Pak Karto berada di dataran yang kering. Musim kemarau terasa panjang dan panasnya sering membuat tanah retak. Di kampung ini, penduduk terbiasa menanam jagung yang menjadi makanan pokok mereka. Jagung adalah harapan sekaligus tantangan. Tumbuhnya membutuhkan ketekunan, dan keberhasilannya sangat bergantung pada ketersediaan air.

Tidak jauh dari sana, kampung Pak Haris diberkahi sumber air yang mengalir jernih dari celah bebatuan. Air itu tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi penduduknya, tetapi juga menjaga ladang mereka tetap subur. Tanaman jagung tumbuh tegak dan kokoh, daunnya melambai hijau seolah mensyukuri limpahan alam.

Pada suatu hari, ketika kemarau datang dengan lebih kejam dari biasanya, kampung Pak Karto kehabisan air. Sumur sumur mereka mengering, dan daun daun jagung mulai layu di bawah matahari. Dalam keputusasaan, mereka mendatangi kampung Pak Haris untuk meminta bantuan. Tanpa ragu, penduduk kampung Pak Haris membuka sumber air mereka untuk tetangganya. Sejak hari itu, setiap pagi dan sore, penduduk kampung Pak Karto berjalan membawa kendi dan tempayan ke kampung Pak Haris untuk mengambil air. Mereka bergantian menuruni jalan tanah, menyapa dengan senyum, dan saling bertukar cerita tentang panen jagung, keluarga, dan doa untuk hujan.

Perlahan, hubungan kedua kampung menjadi erat. Air yang mereka bagi tidak hanya menghidupkan tanaman, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan. Jagung kampung Pak Karto kembali tumbuh, dan bau harum rebusan jagung sering tercium dari dapur dapur rumah penduduk. Jagung yang dahulu hampir gagal panen kini menjadi simbol syukur dan ikatan kasih antar warga.

Namun ada hal menarik pada masa itu. Kedua kampung belum memiliki nama resmi. Mereka hanya disebut berdasarkan nama pemimpinnya, kampung Pak Karto dan kampung Pak Haris. Karena kebersamaan semakin dalam, para tetua kampung bermusyawarah untuk memberi nama pada kampung masing masing. Kampung yang senantiasa datang mengambil air diberi nama Kapong, berasal dari kata ngampong yang berarti menumpang air. Sebaliknya, kampung yang memiliki sumber air jernih namun rasanya tawar diberi nama Sotabar, dari kata tabar yang artinya tawar.

Sejak itu, Kapong dan Sotabar menjadi dua kampung yang saling melengkapi. Mereka tetap berbagi air, saling membantu dalam panen jagung, dan bersama menjaga keseimbangan alam sekitar. Anak anak tumbuh dengan cerita tentang bagaimana air dan pangan menyatukan mereka. Perempuan menjemur jagung sambil bergurau tentang masa masa sulit dahulu, sementara para lelaki menjaga sumber air dan ladang dengan penuh rasa syukur.

Pada akhirnya, kisah Kapong dan Sotabar bukan hanya tentang asal usul nama kampung. Ini adalah kisah tentang bagaimana kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari alam dan sesamanya. Air memberi kehidupan, dan jagung memberi kekuatan. Namun kebersamaanlah yang menjadikan segalanya berarti.

Di tengah dunia yang semakin serba cepat, cerita ini mengingatkan kita bahwa gotong royong dan rasa syukur adalah kunci harmoni. Seperti penduduk Kapong dan Sotabar, kita pun harus menjaga hubungan dengan alam dan membantu sesama. Sebab ketika air mengalir, tanah memberi pangan, dan hati manusia tetap terbuka, kehidupan akan terus tumbuh subur, seperti ladang jagung yang hijau di tanah Madura.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.