Bhuju’ Lembung

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK88802/perca-car-ta-d-ri-madhur-antologi-legenda-para-bhuju-madura

Di sebuah desa tenang di Madura, hiduplah seorang ulama mulia bernama Kiai Haji Nur Iman. Beliau dikenal sebagai sosok yang bersahaja, arif, dan sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Pada suatu hari, ketika matahari masih malu menembus pepohonan dan embun menempel di pucuk-pucuk padi, sang kiai pergi menuju sungai bersama beberapa pengikutnya untuk memenuhi sebuah urusan kecil. Desa saat itu sangat bergantung pada air sungai karena dari situlah sawah-sawah teraliri, memastikan padi tumbuh subur dan hasil beras melimpah untuk kehidupan warga.

Ketika mereka tiba di tepi sungai, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Sandal yang dikenakan Kiai Haji Nur Iman terlepas dan jatuh ke permukaan air. Para pengikutnya sempat cemas karena arus sungai mengalir cukup deras. Mereka khawatir sandal itu akan hanyut terbawa arus, namun ternyata tidak. Sandal itu tetap mengapung diam di tempat, seolah air memilih untuk menghormati pemiliknya dan enggan memindahkannya barang sejengkal. Para saksi mata terperangah dan tidak percaya pada apa yang baru saja mereka lihat.

Kejadian ini membuat masyarakat semakin meyakini bahwa Kiai Haji Nur Iman adalah sosok penuh berkah. Sejak saat itu, beliau diberi sebutan Bhuju’ Lembung, yang berarti orang tua yang memiliki kelebihan hingga mampu membuat aliran air berhenti dan menggenang. Dalam budaya Madura, lembung adalah tempat penampungan air, penentu hidup matinya tanaman padi, dan simbol keberlangsungan pangan masyarakat. Maka tidak mengherankan jika cerita tentang Bhuju’ Lembung selalu dikaitkan dengan kesuburan sawah, keberkahan panen beras, dan kecukupan hasil bumi.

Masyarakat percaya bahwa keberkahan air yang dihormati dan dijaga akan membawa hasil panen berlimpah. Air tidak hanya menjadi sumber minum dan bersuci, tetapi juga rahim kehidupan bagi padi yang tumbuh gagah di hamparan persawahan. Bagi orang Madura, beras bukan sekadar makanan utama. Ia adalah lambang rezeki yang datang dari kerja keras, doa, dan keselarasan dengan alam. Dan air yang diberkahi diyakini mampu menjaga kelimpahan itu.

Hingga kini, kisah tentang Bhuju’ Lembung diceritakan dari mulut ke mulut, menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga hubungan baik antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dari cerita sandal yang menolak hanyut, tersimpan pesan bahwa alam akan berpihak kepada mereka yang menghormatinya. Air yang tenang bukan hanya keajaiban, tetapi juga tanda bahwa keberkahan turun bagi mereka yang jujur dan tulus dalam berbuat. Seperti sawah yang tak pernah menolak menyuburkan padi bagi para petani, demikian pula alam akan membalas kebaikan manusia yang menjaganya.

Pada akhirnya, cerita ini mengajarkan bahwa pangan bukan hanya hasil dari tanah yang subur dan air yang mengalir, melainkan juga buah dari sikap syukur, kesederhanaan, dan kebijaksanaan. Masyarakat Madura belajar dari leluhur mereka bahwa kesejahteraan datang ketika manusia hidup selaras dengan alam, menghargai air sebagai sumber kehidupan, dan menanam padi dengan penuh keikhlasan. Nilai-nilai inilah yang membuat kisah Bhuju’ Lembung tetap hidup, mengalir seperti sungai yang dijaganya, memberi pelajaran tentang kearifan lokal dan cintanya masyarakat pada tanah tempat mereka berpijak.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.