Di pesisir timur Jawa, terdapat kisah turun temurun tentang seorang pemuda bernama Terghek. Ia adalah nelayan sederhana yang kesehariannya bergantung pada laut. Ombak, angin, dan bau garam adalah sahabatnya sejak kecil. Namun pada suatu hari, nasib buruk menimpanya. Ia diserang oleh perampok saat berada di laut, lalu ditinggalkan begitu saja terapung lemah di tengah gelombang. Tubuhnya terombang ambing, pikiran mulai kabur, dan harapan perlahan memudar. Laut yang biasanya menjadi penopang hidupnya, hari itu seolah berubah menjadi ruang ujian bagi keberaniannya.
Di saat tubuhnya hampir menyerah, seekor ikan hiu muncul dari balik buih ombak. Bukannya menyerang, ikan besar itu justru mendorong tubuh Terghek pelan pelan ke arah permukaan air dan menjaga agar ia tidak tenggelam. Dengan gerakan lembut namun pasti, hiu itu memandu Terghek perlahan ke arah tepian pantai. Ketika akhirnya kaki pemuda itu menyentuh pasir basah, ia tersadar bahwa hidupnya telah diselamatkan oleh makhluk yang selama ini dianggap menakutkan oleh banyak orang.
Setelah benar benar pulih kesadarannya, Terghek menatap laut dengan rasa syukur yang dalam. Ia mengucapkan terima kasih kepada sang hiu, penjaga ganas namun berhati mulia. Sebagai wujud balas budi, Terghek bersumpah tidak akan memakan daging hiu atau sejenisnya hingga tujuh turunan. Baginya, ikan hiu bukan hanya penghuni lautan, tetapi penyelamat yang datang saat hidupnya hampir terputus. Sumpah itu bukan sekadar janji, melainkan bentuk penghormatan kepada alam dan makhluk yang telah memberinya kesempatan hidup kedua.
Setelah berjanji, Terghek berjalan tertatih meninggalkan pantai, menuju pemukiman terdekat untuk mencari pertolongan. Penduduk setempat yang melihat keadaannya segera membawa Terghek ke balai keamanan desa. Dengan suara yang masih bergetar, ia menceritakan kejadian yang menimpanya, mulai dari serangan perampok hingga keajaiban laut yang menyelamatkannya. Tanpa menunda waktu, para petugas bergerak cepat dan berhasil menangkap para pelaku yang telah merampas harta dan hampir merenggut nyawa seorang nelayan yang tak bersalah.
Bagi masyarakat pesisir Jawa Timur, laut adalah ibu kehidupan. Dari sana datang ikan ikan segar yang menjadi sumber utama protein dan kekuatan bagi keluarga nelayan. Namun mereka juga sadar bahwa laut bukan tempat untuk keserakahan. Ada aturan yang tidak tertulis, bahwa manusia harus menghargai setiap makhluk di dalamnya. Ikan laut tidak hanya dilihat sebagai makanan, tetapi juga bagian dari rantai kehidupan yang menjaga keseimbangan alam. Karena itu, sumpah Terghek dihormati. Ia menunjukkan bahwa rasa syukur dan penghargaan pada alam bisa melahirkan ikatan suci yang diwariskan hingga tujuh turunan.
Kisah Terghek mengajarkan kita bahwa alam tidak hanya memberi, tetapi juga bisa melindungi. Hiu yang sering dianggap buas ternyata mempunyai sisi penjaga dalam legenda ini. Alam bisa menjadi sahabat setia bagi mereka yang menghargainya. Sementara manusia yang berbuat jahat pada sesama akan menuai balasan, seperti para perampok yang segera ditangkap. Pesan ini masih relevan sampai hari ini. Bahwa keberlanjutan hidup tidak hanya bergantung pada laut yang kaya, tetapi juga pada hati manusia yang tahu berterima kasih, tidak serakah, dan menjaga keseimbangan.
Dalam dunia yang terus berubah, marilah kita belajar dari Terghek dan masyarakat pesisir yang bijak dalam memaknai pangan. Ikan yang mereka tangkap bukan sekadar rezeki, tetapi titipan alam yang harus dijaga. Laut memberi kehidupan, namun menuntut penghormatan. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal adalah cahaya yang membantu kita menjaga hubungan suci antara manusia dan alam, demi kesejahteraan generasi hari ini dan yang akan datang.