Somor Ghendis

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK24203/mozaik-careta-dari-madhura

Di sebuah desa yang subur di wilayah Madura, hiduplah dua bersaudara bernama Samor dan Pajher. Mereka dikenal sebagai petani yang tekun dan gigih bekerja di sawah. Hidup mereka bergantung pada hasil bumi, padi, jagung, dan sayuran yang tumbuh dari tanah yang mereka rawat dengan penuh cinta. Namun, ketika musim kemarau datang terlalu lama, tanah mulai retak dan tanaman pangan mereka mengering. Air menjadi barang langka, dan rasa cemas mulai menyelimuti masyarakat desa.

Samor, sang kakak, tidak mau menyerah begitu saja. Ia memutuskan untuk mencari sumber air di tengah sawah miliknya. Setiap hari, ia menggali tanah yang keras di bawah terik matahari. Peluh bercucuran di wajahnya, namun semangatnya tidak padam. Ia yakin bahwa di dalam tanah yang gersang itu tersimpan kehidupan. Hari demi hari ia bekerja hingga akhirnya, suara gemericik lembut terdengar dari dasar lubang. Dari dalam tanah, memancar air jernih yang deras dan sejuk. Samor tersenyum lega, lalu bersujud syukur. Air itu bagaikan anugerah dari langit, memberi kehidupan baru bagi sawahnya dan seluruh warga desa.

Berbeda nasib dengan kakaknya, Pajher tak seberuntung itu. Ia pun mencoba menggali sumur di sawahnya sendiri, berharap menemukan sumber air yang sama. Namun berkali-kali cangkulnya menghantam tanah, tidak setetes pun air ia temukan. Kelelahan dan kekecewaan membuatnya menyerah. Melihat adiknya yang putus asa, Samor datang mendekat dan menepuk bahunya dengan lembut. Dengan kasih seorang kakak, ia mengajak Pajher menggali sumur baru di sebelah sumur miliknya. “Jangan menyerah, Pajher. Mungkin air hanya menunggu kita bekerja bersama,” katanya.

Mereka berdua pun bekerja bahu-membahu. Tanah demi tanah terangkat, dan tak lama kemudian air jernih kembali menyembur keluar. Air itu begitu segar dan bening, hingga masyarakat menamainya Sumur Ghendis, yang berarti manis dan menyejukkan. Air dari Sumur Ghendis kemudian digunakan untuk mengairi sawah dan menumbuhkan berbagai tanaman pangan lokal. Padi kembali menguning di ladang, jagung tumbuh subur, dan sayur-sayuran hijau kembali memenuhi pasar desa. Kehidupan masyarakat pun pulih berkat sumber air itu.

Sejak saat itu, Sumur Ghendis tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga simbol kehidupan, kerja keras, dan persaudaraan. Masyarakat percaya bahwa siapa pun yang bekerja dengan niat baik dan saling menolong akan selalu diberkahi. Air dari Sumur Ghendis menjadi penopang keberlangsungan pangan desa, mengingatkan semua orang bahwa alam akan memberikan hasil terbaik bagi mereka yang menghargainya.

Kini, kisah Sumur Ghendis menjadi warisan lisan yang dijaga oleh warga. Cerita ini mengajarkan kita pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Dari tangan-tangan yang berpeluh lahirlah sumber kehidupan. Dari kerja sama lahir ketahanan pangan. Dan dari rasa syukur tumbuhlah kearifan lokal yang mengikat manusia dengan bumi tempat ia berpijak.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.