Kolam Se Ko’ol

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK24203/mozaik-careta-dari-madhura

Di masa silam, di Keraton Mandilaras yang megah di Pamekasan, hidup seorang penguasa bijak bernama Pangeran Ronggosukowati. Ia dikenal sebagai pemimpin yang adil dan cinta damai, dihormati oleh rakyatnya karena kebijaksanaan serta kesederhanaannya. Di dalam lingkungan keraton, terdapat sebuah kolam yang sangat disayanginya. Kolam itu bukan hanya tempat beristirahat bagi sang pangeran, tetapi juga sumber air penting yang memberi kehidupan bagi taman dan kebun di sekitarnya.

Suatu malam, ketika Pangeran Ronggosukowati tengah merenung di pinggir kolam, terdengar suara gaib yang menggema lembut di telinganya. Suara itu menyampaikan pesan misterius tentang keris sakti Joko Piturun, pusaka kebanggaan keraton yang telah lama menjadi simbol kekuatan dan perlindungan kerajaan. Suara itu mengingatkan bahwa keris tersebut kini terbuang ke dalam kolam dan menghilang dari pandangan manusia.

Pangeran Ronggosukowati terperanjat. Ia segera memanggil semua abdi dan pengawal istana untuk mencari keris itu. Mereka menyelam, menyisir dasar kolam, dan menelusuri setiap sudut, namun hasilnya nihil. Tak ada satu pun yang menemukan jejak Joko Piturun. Sejak hari itu, kolam yang dulu menjadi tempat ketenangan berubah menjadi simbol misteri dan penyesalan.

Hari demi hari berlalu, namun keris itu tak pernah ditemukan. Anehnya, setelah kejadian itu, kolam kesayangan sang pangeran mulai dipenuhi oleh makhluk kecil berkulit lembut dan bercangkang, yang disebut ko’ol, sejenis siput air. Ko’ol hidup berkelompok di dasar kolam dan lambat laun menjadi penghuni tetap di sana. Melihat keanehan itu, masyarakat setempat percaya bahwa siput-siput tersebut muncul sebagai tanda bahwa alam telah mengambil alih penjagaan terhadap pusaka yang hilang. Sejak saat itu, kolam tersebut dikenal dengan nama Kolam Sé Ko’ol, yang berarti kolam yang dipenuhi ko’ol.

Dari waktu ke waktu, ko’ol tidak hanya menjadi penghuni alamiah kolam itu, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar. Warga mulai memanfaatkannya sebagai bahan pangan. Dimasak dengan bumbu khas Madura, daging ko’ol yang kenyal dan gurih dipercaya mengandung gizi tinggi serta memberi energi bagi tubuh. Selain sebagai sumber protein, kehadiran ko’ol juga menjadi simbol keselarasan antara manusia dan alam, karena masyarakat hanya mengambil secukupnya tanpa merusak keseimbangan ekosistem kolam.

Kini, ko’ol telah dikenal sebagai salah satu bahan pangan khas Pamekasan yang memiliki nilai budaya tersendiri. Bagi warga setempat, memanen ko’ol bukan sekadar mencari makanan, melainkan juga menghargai warisan leluhur yang berakar dari kisah Kolam Sé Ko’ol. Masyarakat percaya bahwa selagi mereka menjaga kolam dan lingkungannya, rezeki dari air itu akan terus mengalir.

Kisah Kolam Sé Ko’ol tidak hanya menjadi legenda, tetapi juga cerminan kearifan lokal masyarakat Madura. Cerita ini mengingatkan kita bahwa alam selalu memiliki cara untuk mengembalikan keseimbangan dan memberikan kehidupan baru, bahkan dari peristiwa kehilangan. Seperti halnya Pangeran Ronggosukowati yang akhirnya menemukan pelajaran dari hilangnya keris pusaka, manusia pun diajak untuk memahami bahwa yang benar-benar sakti bukanlah benda, melainkan kebijaksanaan dalam menjaga hubungan antara manusia, alam, dan sumber kehidupan yang menghidupi mereka.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.