Pada masa kejayaan Keraton Mandilaras di Pamekasan, hiduplah seorang penguasa bijak bernama Pangeran Ronggosukowati. Di lingkungan keraton yang indah itu, berdiri sebuah kolam besar yang sangat disayanginya. Kolam ini menjadi tempat beristirahat sang pangeran sekaligus sumber kehidupan bagi taman dan kebun di sekitarnya. Dari sinilah cerita tentang Kolam Sè Ko’ol bermula.
Suatu malam, ketika langit keraton diselimuti cahaya bulan, Pangeran Ronggosukowati mendengar suara gaib yang berbisik lembut. Suara itu menyebut tentang hilangnya keris sakti Joko Piturun, pusaka kebanggaan kerajaan yang dipercaya membawa perlindungan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sang pangeran terperanjat. Ia segera memanggil para abdi dan pengawal untuk mencari keris tersebut di kolam kesayangannya. Berhari-hari mereka menyelam dan menelusuri dasar kolam, tetapi tidak menemukan apa pun. Hingga akhirnya, pencarian dihentikan.
Sejak saat itu, kolam yang dulu menjadi lambang ketenangan berubah menjadi tempat penuh misteri. Tak lama kemudian, kolam itu mulai dihuni oleh makhluk kecil bercangkang yang disebut ko’ol, sejenis siput air tawar. Ko’ol hidup berkelompok di dasar kolam dan menjadi bagian tetap dari ekosistemnya. Masyarakat percaya bahwa kemunculan ko’ol adalah tanda bahwa alam telah menggantikan peran manusia dalam menjaga keseimbangan dan kesucian tempat itu. Karena itulah kolam tersebut dinamai Sè Ko’ol, yang berarti “kolam yang dipenuhi ko’ol”.
Air dari kolam Sè Ko’ol tidak hanya berhenti di situ. Alirannya mengalir ke arah barat, membentuk kolam baru, lalu berbelok ke selatan menjadi sebuah lèkè atau parit kecil. Air itu terus mengalir, melewati daerah yang kemudian dikenal sebagai bâ lèkè, lembah parit yang tidak dijadikan pemukiman karena dipercaya sebagai kawasan suci penjaga air. Dari sana, air kolam Sè Ko’ol mengalir hingga ke Kampung Gheddhungan dan akhirnya menyatu dengan sungai besar yang kini membelah kota Pamekasan. Aliran air ini seolah menjadi batas alami sekaligus benteng air yang melindungi Keraton Mandilaras dari segala marabahaya.
Ko’ol yang hidup di kolam dan parit tersebut lambat laun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Warga Pamekasan memanfaatkannya sebagai bahan pangan yang bergizi tinggi. Dengan bumbu khas Madura seperti santan, cabai, dan daun jeruk, ko’ol diolah menjadi masakan tradisional yang memiliki cita rasa gurih dan unik. Selain menjadi sumber protein alami, kehadiran ko’ol juga menjadi bukti keterikatan masyarakat dengan alam sekitar mereka. Mereka hanya memanen secukupnya, memastikan bahwa ko’ol tetap berkembang biak dan menjaga kebersihan air.
Kini, kisah Kolam Sè Ko’ol hidup sebagai legenda yang diwariskan turun-temurun. Cerita ini bukan hanya tentang misteri keris yang hilang, tetapi juga tentang bagaimana air dan makhluk kecil di dalamnya menjadi sumber kehidupan dan pangan bagi masyarakat. Dari kolam yang sederhana, lahir kearifan lokal tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Melalui kisah ini, kita belajar bahwa keberkahan tidak selalu datang dari kekuasaan atau pusaka sakti, tetapi dari kepedulian terhadap alam dan kerja sama dalam melestarikan sumber kehidupan. Kolam Sè Ko’ol menjadi simbol bagaimana air, pangan, dan manusia saling terhubung dalam harmoni yang tak terpisahkan.