Di ujung utara Desa Sopaah, Pamekasan, terbentang sebuah hutan lebat yang oleh warga setempat disebut Alas Sopaah. Konon, hutan ini bukanlah tempat biasa. Ia menyimpan kisah lama tentang seorang lelaki buangan yang menemukan kedamaian dan kehidupan baru di tengah belantara. Lelaki itu dulunya hidup di desa, namun karena sebuah kesalahpahaman, ia diusir dan dikejar oleh warga. Tubuhnya penuh luka akibat lemparan batu dan pukulan. Dengan langkah tertatih ia berlari menembus semak, hingga akhirnya tiba di sebuah alas yang luas dan sunyi. Saat memandang sekeliling, hatinya mendadak terasa damai. Entah mengapa, ia yakin bahwa di sanalah tempat yang ia cari. Hutan itu menyambutnya dengan keajaiban. Pohon-pohon rindang berbuah lebat, dari pisang liar hingga nangka hutan, sementara semak-semaknya menyimpan umbi yang bisa dimakan. Di sela bebatuan tumbuh tanaman obat yang dapat meredakan perih di tubuhnya. Dengan daun dan akar yang tumbuh liar, ia meracik ramuan sederhana untuk mengobati luka. Hari demi hari, tubuhnya mulai pulih, dan ia hidup dari buah, umbi, serta tumbuhan obat alami yang tumbuh di hutan itu.
Sejak saat itu, Alas Sopaah menjadi rumah sekaligus sumber kehidupan baginya. Ia hidup selaras dengan alam, hanya mengambil seperlunya, dan menjaga setiap pohon agar tetap tumbuh subur. Waktu berlalu, orang-orang desa mulai mendengar kisah tentang tempat yang memberi kehidupan bagi orang buangan itu. Mereka percaya, hutan itu memiliki kekuatan yang menjaga keseimbangan alam dan tidak boleh dirusak sembarangan. Siapa pun yang serakah, katanya, akan tersesat di dalamnya. Dari kepercayaan itulah muncul kearifan lokal yang masih dijaga hingga kini. Warga Desa Sopaah meyakini bahwa Alas Sopaah adalah simbol kesuburan bumi Pamekasan. Buah liar, umbi-umbian, dan tanaman obat yang tumbuh di sana melambangkan hubungan erat antara manusia dan alam. Mereka percaya bahwa selama alam dijaga, ia akan terus memberikan pangan dan obat bagi kehidupan manusia. Kini, hutan itu menjadi bagian dari identitas warga Sopaah. Ceritanya diwariskan turun-temurun sebagai pengingat untuk selalu bersyukur dan tidak rakus terhadap alam. Dari kisah seorang yang menemukan kehidupan di tengah hutan, masyarakat belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah milik yang berlimpah, melainkan kemampuan untuk hidup selaras dengan alam dan menghargai setiap pemberian bumi.