Di salah satu wilayah di Jawa Timur, masyarakat masih mempercayai keberadaan sebuah rumpun bambu yang dikenal dengan sebutan perrèng sojjin. Bambu ini bukan sembarang bambu. Menurut penuturan seorang tokoh masyarakat bernama Muhammad, perrèng sojjin diyakini sebagai peninggalan tokoh legendaris yang kisahnya telah melegenda di berbagai daerah Nusantara, yakni Ki Ageng Jaka Tarub.
Konon, bambu itu tidak tumbuh secara alami seperti bambu lainnya. Dikisahkan bahwa Jaka Tarub suatu ketika menancapkan tusuk sate bekas ia gunakan dalam sebuah jamuan makan sederhana. Tusuk sate itu ditancapkannya ke tanah, dan secara ajaib, beberapa waktu kemudian tumbuhlah sebatang bambu yang rindang dan kuat. Bambu tersebut terus berkembang hingga kini menaungi area pemakaman di daerah itu, menjadi saksi bisu perjalanan waktu sekaligus pengingat akan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Nama perrèng sojjin sendiri dipercaya berasal dari kata yang bermakna “pengikat kasih.” Masyarakat setempat meyakini bahwa bambu peninggalan Jaka Tarub ini membawa energi kebaikan dan keharmonisan. Banyak pasangan yang datang ke tempat itu untuk berdoa dan berharap agar hubungan mereka langgeng dan dipenuhi kasih sayang. Namun di balik kepercayaan itu, tersimpan makna filosofis tentang pentingnya menjaga kesetiaan, ketulusan, dan keseimbangan antara manusia dengan alam.
Bambu yang menjadi asal mula kisah ini berawal dari sesuatu yang sederhana, yakni tusuk sate. Dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur, tusuk sate memiliki makna penting sebagai alat untuk mengolah makanan khas seperti sate ayam, sate kambing, hingga sate Madura yang terkenal ke seluruh nusantara. Dari bahan pangan sederhana inilah tercermin kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam. Tusuk sate bukan sekadar alat, tetapi juga simbol persatuan: menyatukan potongan daging, bumbu, dan cita rasa dalam satu tusukan yang menggugah selera.
Ketika bambu tusuk sate itu tumbuh menjadi pohon besar, masyarakat menganggapnya sebagai pertanda bahwa kebaikan yang dilakukan manusia akan selalu meninggalkan jejak. Jaka Tarub, dengan kebijaksanaannya, telah memberi pelajaran bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, dapat tumbuh dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya. Seperti bambu yang terus menjulang, demikian pula nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan, meneduhkan siapa pun yang menghargainya.
Hingga kini, perrèng sojjin tetap dirawat dan dihormati oleh warga. Setiap orang yang datang ke tempat itu diajak untuk tidak sekadar memohon keberuntungan, tetapi juga merenungkan makna hubungan antar manusia yang dilandasi kasih sayang dan kesetiaan. Mereka juga diingatkan untuk menghormati alam, karena dari tanah yang sama tumbuh bahan pangan, alat kehidupan, dan simbol spiritual yang menyatukan manusia dalam keberagaman.
Kisah perrèng sojjin mengajarkan kita bahwa pangan dan alam tidak pernah terpisahkan dari nilai kemanusiaan. Dari tusuk sate yang berubah menjadi bambu rimbun, tersirat pesan bahwa setiap unsur alam memiliki kehidupan dan makna tersendiri. Dalam keseharian, manusia hendaknya menggunakan apa yang diberikan alam dengan rasa hormat, tidak berlebihan, dan selalu menjaga keseimbangannya. Itulah wujud sejati dari kearifan lokal yang menuntun manusia untuk hidup harmonis di bawah naungan kasih dan kebersamaan.