Di sebuah daerah di Jawa Timur, terdapat kabupaten yang kini dikenal sebagai Tulungagung. Nama ini bukan sekadar sebutan geografis, melainkan menyimpan kisah masa lampau tentang air, rawa, dan seorang pemuda sakti. Dahulu, sebelum dikenal dengan nama yang sekarang, wilayah ini disebut Ngrowo karena dipenuhi rawa dan banyak sekali mata air yang mengalir dari berbagai penjuru. Air menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Pada masa itu, sumber air yang ada tidak hanya banyak, tetapi juga sangat besar. Di antara banyaknya mata air tersebut, terdapat satu sumber yang paling menonjol karena debitnya yang melimpah dan terus mengalir tanpa henti. Sumber air itu berada tepat di kawasan yang kini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tulungagung, yaitu di sekitar alun-alun kota. Keberadaan sumber air itu begitu besar dan memberikan kehidupan bagi masyarakat, sehingga disebut sebagai Tulung Agung. Dalam bahasa Sanskerta, kata Tulung merujuk pada sumber air, sedangkan Agung berarti besar.
Wilayah Ngrowo kala itu bagaikan dataran basah yang selalu dipeluk air. Tanahnya becek, berawa, dan sulit dijadikan pusat pemerintahan. Namun di balik genangan air itu tersimpan kesuburan yang luar biasa. Air mengalir dari berbagai mata air yang tersebar, bagaikan anugerah alam yang tak pernah habis. Masyarakat menggantungkan hidup pada sumber air itu, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk mengairi sawah. Namun, jika suatu daerah hendak maju, diperlukan pemukiman yang lebih layak dan kokoh, bukan kawasan rawan banjir atau rawa yang berlumpur.
Tepat pada saat berpindahnya kekuasaan dan perluasan daerah, muncul gagasan untuk menjadikan Ngrowo sebagai pusat pemerintahan. Namun, ada satu kendala besar. Sumber air yang sangat melimpah di alun-alun itu perlu dikeringkan agar tanah bisa ditata dan dibangun. Proses ini bukan pekerjaan yang mudah, sebab mengendalikan sumber air sebesar itu membutuhkan kekuatan yang tak biasa. Saat itulah hadir sosok pemuda sakti dari Gunung Wilis bernama Joko Baru.
Joko Baru dikenal sebagai pemuda yang memiliki ilmu kesaktian dan pemahaman mendalam mengenai alam. Ia dipercaya memiliki kemampuan untuk menutup aliran sumber air tanpa merusak keseimbangan alam sekitar. Masyarakat pun meminta bantuannya. Dengan laku spiritual dan ilmu yang dimilikinya, Joko Baru melakukan ritual khusus untuk menghentikan luapan air dari sumber tersebut. Lambat laun, air mulai surut dan rawa mengering. Proses itu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membangun pemukiman yang lebih teratur dan kokoh.
Dengan mengeringnya area tersebut, pembangunan pusat pemerintahan pun dimulai. Nama Tulung Agung yang semula muncul dari keberadaan sumber air itu, akhirnya melekat dan menjadi identitas daerah. Nama ini tidak hanya menggambarkan besarnya sumber air secara fisik, tetapi juga menjadi simbol dari kehidupan, anugerah, serta pertolongan besar yang pernah diterima masyarakat. Seiring berjalannya waktu, nama Tulung Agung berubah lafal dan penulisannya menjadi Tulungagung seperti dikenal saat ini.
Begitulah kisah tentang asal usul nama Tulungagung. Cerita ini mengandung pesan bahwa air merupakan sumber kehidupan dan berkah bagi manusia. Sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan besar seringkali berawal dari keberanian untuk mengelola anugerah alam dengan bijak. Tulungagung berdiri di atas sejarah air yang besar dan jasa seorang pemuda sakti, yang dipercaya telah membantu membuka jalan bagi lahirnya kabupaten yang kini dikenal sebagai penghasil marmer dan daerah yang terus berkembang maju di Jawa Timur.