Pada masa lalu, wilayah Tulungagung masih dikenal dengan nama Ngrawa, sebutan yang menggambarkan kondisi alamnya yang dikelilingi hamparan rawa luas. Daerah itu sering dilanda banjir sehingga kehidupan warga sangat bergantung pada alam sekitar, terutama pada hasil rawa yang menjadi sumber pangan seperti ikan, umbi liar, dan tanaman air. Di antara rawa yang terkenal pada masa itu terdapat sebuah rawa besar yang kini dikenal sebagai Rawa Pening. Tempat ini berada tidak jauh dari Gua Song Gentong dan menyimpan kisah yang terus diceritakan turun-temurun.
Konon, terbentuknya Rawa Pening berawal dari kisah seorang anak kecil yang sebenarnya merupakan jelmaan Naga Baru Klinthing. Ia dianggap sebagai makhluk sakti, namun hidup dalam kesendirian karena lidahnya pernah dipotong oleh ayahnya. Saat mengembara, ia tiba di sebuah desa yang masyarakatnya hidup berkecukupan berkat sumber daya alam sekitar. Para warga biasa mengolah hasil alam menjadi makanan, termasuk aneka hidangan berbahan kelapa. Lidi sering digunakan sebagai alat bantu dalam proses pengolahan pangan tersebut, sehingga keberadaan lidi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Anak kecil itu mendatangi rumah-rumah penduduk untuk meminta makanan. Namun tidak seorang pun warga desa sudi membaginya meski hanya sedikit. Mereka mengusirnya dengan alasan tidak ingin memberikan hasil pangan yang telah mereka sajikan. Di antara seluruh warga, hanya seorang nenek tua yang dengan tulus memberikan hidangan sederhana kepada sang anak. Nenek itu mempersilakan ia makan hingga kenyang tanpa mengeluh ataupun berharap balasan. Sebelum pergi, anak kecil tersebut berpesan kepada sang nenek agar menyiapkan sebuah lesung dan entong kayu, dua alat yang biasa dipakai untuk menumbuk dan menyajikan makanan, karena keduanya akan sangat dibutuhkan suatu hari nanti.
Meski merasa heran karena saat itu masih musim kemarau, sang nenek menuruti permintaan itu. Ia percaya bahwa setiap kebaikan akan berbuah pada waktunya. Sementara itu, anak jelmaan Baru Klinthing berjalan ke lapangan desa lalu menancapkan sebatang lidi di tanah. Ia mengumumkan sebuah sayembara. Barang siapa mampu mencabut lidi itu, boleh mengambil nyawanya. Namun siapa pun yang gagal mencabutnya harus memberinya makanan. Para warga yang merasa tersinggung karena anak kecil itu dianggap sombong segera mencoba mencabut lidi tersebut satu per satu.
Tidak seorang pun berhasil mencabutnya. Makanan pun terus diberikan sebagai pelunasan janji sayembara. Tumpukan makanan menggambarkan betapa kaya pangan desa tersebut, tetapi juga memperlihatkan sifat warga yang lebih memilih menunjukkan gengsi daripada berbagi secara tulus. Saat kesabaran warga habis, mereka memaksa anak itu sendiri yang mencabut lidi tersebut. Sang anak telah memperingatkan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk jika lidi itu dicabut. Namun warga menolak mendengarnya.
Begitu lidi terangkat, dari tanah muncul semburan air yang pada awalnya hanya berupa mata air kecil. Dalam waktu singkat air itu berubah menjadi luapan besar yang tak terkendali. Banjir pun terjadi dan menenggelamkan desa beserta seluruh penduduk yang sebelumnya menolak memberi bantuan makanan. Mereka tidak sempat menyelamatkan diri karena tidak mempersiapkan apa pun untuk menghadapi bencana.
Hanya satu orang yang selamat, yaitu nenek tua yang telah menolong sang anak. Berkat pesan anak kecil itu, sang nenek menggunakan lesung sebagai perahu dan entong kayu sebagai dayung. Dengan kedua alat yang biasanya dipakai untuk mengolah bahan pangan, ia berlayar menghindari banjir yang kian meninggi. Lesung dan entong kayu yang sederhana berubah menjadi penyelamat hidup baginya.
Sejak peristiwa itu, air tidak pernah surut dan membentuk rawa luas yang dinamakan Rawa Pening. Kisah ini mengingatkan masyarakat Tulungagung akan pentingnya berbagi pangan dan menghargai sumber daya alam. Lidi yang menjadi benda kecil dalam cerita ini bukan sekadar alat, melainkan simbol bahwa pangan hasil alam, termasuk olahan kelapa, sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu. Rawa yang terbentuk pun menjadi sumber pangan baru bagi penduduk di sekitarnya, memberikan ikan dan hasil alam yang menjaga kelangsungan hidup generasi berikutnya.