Di lereng hijau Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, terdapat sebuah bendungan besar yang menjadi nadi kehidupan masyarakat. Bendungan ini dikenal dengan nama Bendungan Wonorejo. Selain menjadi kebanggaan daerah, bendungan ini memiliki peran penting sebagai sumber air irigasi yang menunjang ketahanan pangan dan kebutuhan air masyarakat. Air yang tertampung di bendungan ini mengalir ke sawah, ladang, dan pemukiman, sehingga keberadaannya tidak hanya menjadi bentang alam yang indah tetapi juga penopang kesejahteraan warga di sekitarnya.
Bendungan Wonorejo dibangun sebagai upaya menahan laju air agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Air yang tertampung tidak hanya disalurkan untuk irigasi pertanian, tetapi juga menjadi sumber air baku bagi warga. Berbagai jenis pangan seperti padi, jagung, dan aneka tanaman palawija bergantung pada air ini. Kehadirannya mengubah pola hidup petani, dari yang bergantung pada hujan menjadi lebih produktif dan berkelanjutan sepanjang tahun.
Selain fungsi vitalnya bagi pangan, Bendungan Wonorejo juga menambah pesona wisata Tulungagung. Warga dan pengunjung sering menikmati keindahan danau bendungan yang tenang, berpadu dengan panorama perbukitan yang memanjakan mata. Dari kejauhan, air bendungan tampak seperti cermin luas yang memantulkan langit biru, menciptakan suasana damai dan memikat siapa saja yang datang berkunjung. Tempat ini sering menjadi lokasi rekreasi keluarga, olahraga air, maupun sekadar bersantai menikmati udara pegunungan.
Walaupun dikenal sebagai sumber kehidupan, Bendungan Wonorejo juga dikelilingi cerita menarik yang diwariskan dari mulut ke mulut. Salah satu kisah yang sering terdengar adalah tentang air bendungan yang pada malam hari tampak bercahaya di area tertentu. Ada warga yang percaya bahwa cahaya tersebut berasal dari makhluk air, sementara sebagian lain meyakini itu adalah pantulan cahaya alami yang berasal dari alga tertentu yang memendarkan sinar. Cerita ini membuat suasana malam di area bendungan terasa penuh misteri namun tetap memesona bagi para pencinta kisah rakyat.
Tidak jauh dari permukaan airnya, terdapat pula terowongan yang sejak dulu memancing rasa penasaran. Beberapa penduduk mengaitkannya dengan kisah makhluk tak kasatmata yang menjaga kawasan tersebut. Walaupun tidak ada bukti konkret, kisah yang berkembang membuat terowongan ini dianggap memiliki sisi magis yang menyelimuti keberadaannya. Cerita ini turut menjadi bagian dari daya tarik bendungan, terutama bagi mereka yang menyukai legenda lokal.
Ketika musim hujan tiba, fenomena kilat yang menyambar di area tertentu dekat bendungan dikenal masyarakat dengan sebutan tumpak bledek. Fenomena petir tersebut dianggap sebagai tanda alam yang menegaskan kekuatan energi di wilayah Wonorejo. Walaupun memiliki kesan menakutkan, masyarakat setempat telah terbiasa dan menganggapnya sebagai bagian dari dinamika alam yang menyelimuti bendungan.
Bendungan Wonorejo tidak hanya menyimpan kisah dan legenda, tetapi juga bukti nyata hubungan manusia dengan alam. Air yang dialirkan dari bendungan ini menjadi sumber kehidupan dan pangan bagi banyak warga Tulungagung. Di balik keindahan dan cerita misterinya, bendungan ini telah membentuk harmoni antara alam, kesejahteraan, dan budaya setempat. Dengan peran penting dalam menjaga ketersediaan air untuk irigasi dan kebutuhan hidup, Bendungan Wonorejo terus menjadi simbol keberkahan yang patut dijaga bersama.