Di lereng wilayah Rejotangan, Tulungagung, terbentang sebuah desa yang hingga kini masih menyimpan jejak sejarah pembukaannya. Desa itu bernama Jatidowo. Nama yang terdengar sederhana, tetapi memiliki kisah panjang yang melekat dalam ingatan para sesepuh.
Dahulu, daerah ini tidak seperti sekarang. Wilayah yang kini bernama Jatidowo masih berupa hutan lebat yang dipenuhi pepohonan besar dan semak belukar. Suasana hutan begitu sunyi, hanya suara burung dan desiran angin yang sesekali terdengar di antara pepohonan jati yang menjulang. Meski tampak angker, hutan ini menyimpan banyak potensi alam bagi mereka yang berani membuka dan mengolahnya.
Sekitar tahun 1872, datang seorang tokoh bernama Ki Mangundikromo. Ia dikenal sebagai sosok pemberani dan bijak, memiliki tekad kuat untuk membuka lahan baru bagi sebuah pemukiman. Ki Mangundikromo mulai menebangi pohon dan membersihkan semak belukar, langkah demi langkah mengubah hutan menjadi tempat yang dapat dihuni. Usahanya tidak mudah. Hutan itu luas dan dikelilingi bukaan hutan lain seperti Tanen di utara, Sukorejo Wetan di timur, Tenggur di selatan, serta Banjerejo di barat.
Dalam proses pembukaan hutan, Ki Mangundikromo menemukan sebuah pohon jati yang sangat berbeda dari lainnya. Pohon itu tumbuh tinggi dan besar, menjulang seakan menyentuh langit. Daunnya lebar, batangnya kokoh, dan tampak jauh lebih tua dari pohon-pohon jati di sekitarnya. Keberadaannya menjadi tanda kuat bagi Ki Mangundikromo dan warga yang membantunya bahwa wilayah itu memiliki keistimewaan.
Pohon jati raksasa itu kemudian menjadi penanda wilayah baru tersebut. Para sesepuh yang menyaksikan proses pembukaan hutan sepakat memberi nama daerah itu Jatidowo. Kata Jati merujuk pada jenis pohon yang mendominasi hutan itu, sedangkan Dowo dalam bahasa Jawa berarti panjang atau tinggi. Nama ini menggambarkan pohon jati yang luar biasa panjang dan menjadi simbol awal mula desa tersebut.
Selain digunakan sebagai bahan bangunan, daun jati memiliki peran penting bagi masyarakat setempat. Sejak zaman dahulu, daun jati dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan. Aromanya yang khas dan bentuknya yang lebar membuatnya sangat cocok untuk membungkus nasi, lauk, hingga jajanan tradisional. Masyarakat Jatidowo memanfaatkan hasil hutan jati bukan hanya untuk papan dan kayu, tetapi juga untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Tradisi membungkus makanan dengan daun jati masih terus dilestarikan hingga kini, menjadi bagian dari identitas kuliner lokal.
Seiring berjalannya waktu, wilayah yang dulu hanyalah hutan belantara berubah menjadi desa yang makmur. Ladang-ladang terbentang, rumah-rumah berdiri, dan masyarakat hidup dari hasil bumi dan kearifan lokal yang diwariskan turun temurun. Ki Mangundikromo dikenang sebagai pendiri desa dan sosok berjasa yang membuka jalan bagi kehidupan masyarakat Jatidowo.
Nama Jatidowo bukan hanya sekadar identitas geografis, tetapi juga simbol kekuatan alam, kerja keras, dan kedekatan manusia dengan sumber pangan yang berasal dari tanah mereka sendiri. Hingga kini, daun jati tetap menjadi saksi hidup bahwa alam adalah sahabat yang menyediakan kebutuhan manusia, termasuk untuk menyajikan makanan dengan cara yang alami dan ramah lingkungan.