Legenda Desa Bangoan

URL Cerital Digital: https://webtour-kampungliterasi.22web.org/sejarah-desa-bangoan.html?i=1

Desa Bangoan pada awalnya merupakan hutan belantara yang terletak di tepian Sungai Brantas. Wilayah ini pertama kali dibuka oleh dua bersaudara, yakni Mbah Canggah dan Mbah Arum Sari, yang kemudian menjadikannya sebagai tempat tinggal. Pembagian wilayah dilakukan sejak awal, di mana bagian barat dikelola oleh Mbah Canggah, sedangkan bagian timur menjadi wilayah Mbah Arum Sari.

Nama Bangoan berasal dari peristiwa yang berkaitan dengan pohon sendung yang dikenal angker atau wingit. Pohon ini menjadi pusat perhatian karena banyak hewan, termasuk burung bangau, bertengger di atasnya. Pohon sendung tersebut sulit ditebang, bahkan banyak menelan korban jiwa di antara para pengikut Mbah Canggah. Namun, akhirnya pohon itu berhasil ditebang oleh Mbah Canggah. Karena keberhasilan tersebut dan banyaknya burung bangau yang bertengger di pohon sendung, wilayah itu kemudian dinamakan Desa Bangoan sebagai bentuk pengingat peristiwa tersebut.

Pada awal pembentukannya, Desa Bangoan terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Ngipik dan Dusun Krajan. Nama Dusun Ngipik diambil dari sebuah pohon besar yang berada di wilayah tersebut. Pohon ini dikenal bukan karena keangkerannya, tetapi karena ukurannya yang sangat besar sehingga kerap menjadi tempat berkumpul dan beristirahat bagi para penebang kayu setelah bekerja. Adapun Dusun Krajan merujuk pada pusat pemerintahan desa pada masa itu, tempat para tokoh berkumpul untuk membahas urusan masyarakat. Meskipun wilayahnya tidak sebesar sebuah kerajaan, kedudukannya sebagai pusat kegiatan desa membuatnya dinamai Krajan.

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara kedua wilayah semakin berkembang, tetapi juga memunculkan persaingan antara Mbah Canggah dan Mbah Arum Sari. Persaingan tersebut memuncak pada sebuah perjudian, yang pada masa itu dianggap hal lumrah dan tidak dipandang buruk seperti di masa kini. Uniknya, taruhan yang dipertaruhkan bukan barang biasa, melainkan wilayah hasil pembabatan hutan. Dalam perjudian tersebut, Mbah Canggah keluar sebagai pemenang, sehingga wilayah Desa Bangoan bertambah luas mencakup daerah yang kini berbatasan dengan Desa Bulusari, yaitu Dusun Karangarum.

Nama Karangarum memiliki makna simbolis yang berasal dari kata karang yang berarti pekarangan atau wilayah, dan Arum yang diambil dari nama Mbah Arum Sari. Dengan demikian, Karangarum bermakna sebagai wilayah yang berasal dari Mbah Arum. Pemberian nama ini dimaksudkan agar keturunan yang tinggal di wilayah tersebut tetap mengingat sejarah dan asal-usul daerahnya. Selain itu, pohon sendung sebagai elemen penting dalam legenda desa ini diketahui memiliki manfaat pada beberapa bagiannya, terutama dalam pengobatan tradisional masyarakat setempat.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.