Asal-usul Desa Pecuk

URL Cerital Digital: https://pakisaji.tulungagungdaring.id/profi

Desa Pecuk merupakan salah satu dari 19 desa di wilayah administratif Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung. Pada masa awalnya, daerah Pecuk merupakan kawasan rawa-rawa yang dikelilingi hutan belantara. Di area rawa itu tumbuh sekelompok pepohonan besar yang menjadi tempat hinggap burung-burung rawa berwarna hitam—mulai dari bulu, paruh, hingga kakinya. Burung ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan burung Pecuk, yang menjadi asal-usul nama desa tersebut. Burung pecuk hidup di sekitar perairan dan rawa karena menjadikan ikan sebagai makanan utamanya.

Seiring waktu, kawasan rawa dan hutan tersebut dibuka (babat alas) oleh beberapa pendatang dari luar daerah, di antaranya:

  • Dremo, berasal dari Bogelan, Jawa Tengah (sekarang wilayah Magelang)
  • Djogoroto, berasal dari Bayat, Jawa Tengah
  • Payin, juga berasal dari Bogelan, Jawa Tengah
  • Djokrapak, berasal dari Ponorogo

Salah satu tokoh pembuka wilayah, yaitu Payin, membangun sebuah langgar (mushola). Lokasi petilasan langgar tersebut kini telah berdiri Masjid Jami’ dan Madrasah Imam Muchyidin. Pada malam setelah langgar selesai dibangun, datang seorang pria bernama Imam Muchyidin, seorang prajurit dari Kerajaan Mataram. Kehadirannya menjadi momentum awal berkembangnya kehidupan sosial dan religius masyarakat Pecuk.

Melihat kondisi wilayah yang masih sepi, dikelilingi rawa dan hutan, Payin bermusyawarah dengan para pembabad wilayah dan Imam Muchyidin untuk mencari cara menghidupkan suasana desa. Dari musyawarah tersebut lahirlah gagasan untuk mengembangkan kesenian bernuansa Islami berupa sholawatan, sebagai sarana mempererat kebersamaan dan menghidupkan aktivitas masyarakat. Dari sinilah tradisi keagamaan dan kesenian Islam mulai tumbuh di Desa Pecuk.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.