Bhuju’ Agung Rabah

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK24203/mozaik-careta-dari-madhura

Pada masa silam, di sebuah dusun tenang bernama Sendir, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, hiduplah seorang ulama bijaksana bernama Kiai Abdullah, atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Sendir ke-III. Beliau dikenal luas oleh masyarakat karena kebijaksanaannya dan ketekunannya dalam mengajarkan ilmu agama kepada para santri dan warga sekitar. Namun, di balik kebesarannya sebagai seorang alim, Kiai Abdullah memiliki anugerah yang lebih berharga: seorang putra istimewa bernama Abdurrahman.

Sejak kecil, Abdurrahman telah menunjukkan tanda-tanda keistimewaan yang tak dimiliki anak-anak seusianya. Ia tumbuh dalam suasana penuh kasih dan kedekatan dengan alam. Orang-orang di sekitar rumahnya sering melihat Abdurrahman duduk di bawah pohon kelapa atau di tepi sawah sambil menatap langit, seolah sedang berbicara dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Namun, bukan hanya ketenangan sikapnya yang membuat orang kagum, melainkan kekuatan dalam ucapannya. Setiap kata yang terucap dari mulut Abdurrahman seakan memiliki daya. Ketika ia berkata bahwa sebentar lagi akan turun hujan, tak lama kemudian langit benar-benar berubah. Angin berembus lembut, awan menggulung perlahan, lalu hujan turun membasahi bumi. Penduduk pun heran, sebab ramalannya tak pernah meleset.

Lambat laun, masyarakat Sendir mulai mempercayai bahwa setiap hujan yang datang membawa berkah bagi hasil bumi mereka. Sawah-sawah yang tadinya kering menjadi subur, dan padi tumbuh dengan bulir padat serta wangi yang khas. Pangan utama masyarakat pun bertumpu pada hasil bumi ini. Dari padi yang melimpah, mereka mengolah beras menjadi berbagai hidangan khas Madura seperti nasi jagung campur kelapa, singkong rebus manis, hingga beras ketan yang biasa digunakan untuk acara selamatan dan syukuran.

Kiai Abdullah menyadari bahwa keistimewaan putranya bukanlah semata anugerah, tetapi juga tanggung jawab besar. Ia mendidik Abdurrahman agar tidak sombong dan selalu menggunakan karunia itu untuk kebaikan sesama. Maka, setiap kali masyarakat mengalami kemarau panjang, Abdurrahman berdoa agar hujan turun. Ketika hujan benar-benar datang, warga Sendir menggelar syukuran sederhana. Mereka memasak hasil panen seperti ketan tumpeng dan lauk pauk dari hasil ladang, lalu dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat yang diturunkan Tuhan.

Tradisi ini terus hidup dari generasi ke generasi. Hujan bukan hanya dilihat sebagai fenomena alam, melainkan simbol keseimbangan antara manusia dan bumi. Pangan yang dihasilkan dari tanah pun dianggap sebagai bentuk kasih sayang Tuhan yang patut dijaga dan dihargai.

Kini, kisah tentang Kiai Abdurrahman masih diceritakan oleh para sesepuh Sendir. Mereka meyakini bahwa hujan yang datang membawa keberkahan adalah tanda bahwa doa orang saleh tetap menjaga desa mereka. Bagi masyarakat setempat, menjaga hubungan dengan alam sama pentingnya dengan menjaga hubungan dengan sesama manusia. Pangan bukan hanya sumber hidup, tetapi juga sarana untuk bersyukur dan berbagi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.