Bhindhara Saod

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK24203/mozaik-careta-dari-madhura

Di sebuah desa yang teduh di Madura bagian timur, hidup seorang tokoh saleh yang dikenal dengan nama Bhindhara Saod. Ia bukan hanya dihormati karena ilmunya yang luas dalam agama Islam, tetapi juga karena kesederhanaan hidupnya yang menjadi teladan bagi banyak orang. Meskipun namanya harum hingga ke desa-desa sekitar, Bhindhara Saod tetap hidup dalam kesahajaan.

Setiap pagi, ketika embun masih menempel di pucuk-pucuk daun, Bhindhara Saod keluar rumah membawa gharunju, wadah anyaman dari daun kelapa yang digunakan untuk membawa rumput. Ia mengenakan pacca’, sandal kayu khas Madura yang sederhana namun kuat. Di pundaknya tergantung sabit kecil, dan langkahnya pelan menyusuri jalan setapak menuju ladang. Di sana ia mencari rumput untuk pakan ternak serta kayu bakar untuk keperluan memasak.

Meski ia seorang tokoh agama, Bhindhara Saod tidak segan melakukan pekerjaan kasar. Baginya, mencari nafkah dengan tangan sendiri adalah bentuk ibadah. Saat rehat di bawah pohon rindang, ia sering menatap hamparan sawah hijau yang berkilau disinari matahari. Di tengah hamparan itulah tumbuh sumber kehidupan masyarakat: padi, jagung, dan singkong, tiga pangan utama yang menjadi penopang hidup penduduk desa.

Ketika musim panen tiba, desa menjadi begitu ramai. Lantunan doa dan syukur menggema dari surau hingga ke pematang sawah. Bhindhara Saod selalu mengingatkan warga untuk tidak hanya menikmati hasil panen, tetapi juga berbagi kepada tetangga yang kurang beruntung. Dari hasil bumi itu, masyarakat membuat berbagai hidangan khas seperti nasi jagung dengan urap kelapa muda, singkong rebus yang disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah, serta beras ketan untuk acara kenduri.

Baginya, setiap butir beras dan potong singkong bukan sekadar makanan, melainkan berkah yang lahir dari kerja keras dan doa. Ia sering berkata bahwa pangan akan membawa keberkahan hanya jika dihasilkan dengan tangan yang jujur dan hati yang ikhlas. Karena itu, Bhindhara Saod selalu menolak untuk mengambil hasil panen tanpa izin pemiliknya, bahkan sekalipun hanya sehelai daun jagung yang jatuh di jalan.

Kehidupan sederhana Bhindhara Saod mengajarkan masyarakat desa untuk menghargai alam dan hasil bumi. Ia menanamkan keyakinan bahwa tanah tidak hanya memberi makan, tetapi juga menumbuhkan iman. Karena itu, ia mengajarkan anak-anak muda agar tidak malu bekerja di ladang, menggembala sapi, atau menanam jagung.

“Tanah ini bukan hanya tempat berpijak,” katanya suatu ketika, “tetapi juga tempat kita bersujud dan bersyukur.”

Kini, nama Bhindhara Saod masih disebut dalam setiap cerita yang beredar dari mulut ke mulut di Madura. Sosoknya menjadi simbol kesederhanaan, kerja keras, dan kedekatan manusia dengan alam. Dari kisah hidupnya, masyarakat belajar bahwa kesejahteraan sejati bukan diukur dari banyaknya harta, melainkan dari rasa cukup dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan melalui tanah dan tanaman yang tumbuh di atasnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.