Desa Ploso Mojo Kediri

URL Cerital Digital: https://wafaploso.wordpress.com/2015/05/15/asal-usul-desa-ploso-mojo-kediri/

Di tepian sungai yang tenang, sekitar 15 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Kediri, berdirilah Desa Ploso Mojo sebuah desa yang dahulu dikenal sebagai tempat yang damai dan terpencil. Pada pertengahan abad ke-19, wilayah ini masih sepi, dengan penduduk yang jarang dan rumah-rumah yang berjauhan dari jalan utama. Masyarakat kala itu lebih menyukai hidup tenang, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk perdagangan.

Namun, di balik ketenangan itu, sejarah panjang bangsa juga bergaung. Setelah Perang Diponegoro (1825–1830) berakhir dengan kekalahan pihak rakyat, banyak penduduk dari Jawa Tengah terutama dari daerah Yogyakarta, Magelang, dan Muntilan — memilih meninggalkan kampung halaman mereka akibat tekanan dan penderitaan di bawah penjajahan Belanda. Sebagian dari mereka bermigrasi ke Jawa Timur, dan salah satu tempat yang mereka pilih sebagai pemukiman baru adalah wilayah Ploso yang subur dan damai.

Setibanya di tanah baru itu, para pendatang membawa serta tradisi yang menjadi bagian dari identitas mereka. Salah satu kebiasaan unik mereka adalah menanam pohon sawo di depan rumah. Setiap rumah diwajibkan memiliki setidaknya satu batang pohon sawo, sebagai simbol dan penanda asal-usul mereka dari tanah Jawa Tengah. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi ciri khas Desa Ploso, di mana hampir setiap halaman rumah ditumbuhi pohon sawo yang rindang.

Buah sawo yang manis dan lembut kemudian menjadi bagian dari keseharian masyarakat Ploso Mojo. Selain sebagai buah konsumsi, sawo juga menjadi simbol kehidupan dan keteduhan. Pohon-pohon sawo yang tumbuh di sepanjang desa memberikan kesan asri dan menenangkan, seolah menjadi saksi perjalanan sejarah para leluhur yang berjuang mencari kedamaian setelah masa perang yang berat.

Seiring bertambahnya penduduk dan berkembangnya kegiatan ekonomi, Ploso Mojo mulai ramai. Pasar Pahing didirikan sebagai pusat jual beli kebutuhan masyarakat, termasuk hasil bumi dan buah-buahan seperti sawo. Pasar ini menjadi denyut nadi perekonomian desa dan tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat.

Kini, Desa Ploso Mojo dikenal tidak hanya karena kisah migrasi dan ketenangannya, tetapi juga karena pohon sawo yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan sejarahnya. Tradisi menanam sawo diwariskan sebagai simbol keteguhan, kesuburan, dan rasa syukur terhadap tanah yang memberikan kehidupan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.