Asal-usul nama Desa Ringinsari berawal dari kisah pembabatan hutan pada masa awal pembentukan wilayah ini. Dahulu, daerah tersebut masih berupa hutan lebat yang belum tersentuh manusia. Ketika para pendatang mulai membuka lahan untuk dijadikan permukiman, mereka menemukan sebuah pohon beringin yang sangat besar di tengah hutan. Pohon itu tampak berbeda dari pohon beringin pada umumnya karena memiliki daun berwarna kekuningan menyerupai bunga.
Keunikan lain dari pohon tersebut adalah keluarnya cairan berwarna putih dari batangnya. Cairan itu oleh masyarakat disebut sebagai sari, yang dipercaya memiliki khasiat tertentu dan dianggap membawa berkah bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Karena keunikan dan keanggunan pohon beringin itu, masyarakat kemudian menamai wilayah tersebut Ringinsari — gabungan dari kata ringin (beringin) dan sari (getah atau cairan berkhasiat).
Seiring waktu, nama tersebut melekat sebagai identitas desa hingga sekarang. Selain menyimpan nilai sejarah dan spiritual, pohon beringin di wilayah ini juga memiliki fungsi ekologis penting. Beberapa bagian pohon beringin, seperti getah, daun, dan akarnya, dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat sebagai bahan obat alami untuk mengobati luka, meredakan demam, dan menjaga kesehatan.
Kini, Desa Ringinsari di Kecamatan Kandat dikenal sebagai daerah yang tetap menjaga keseimbangan antara tradisi dan lingkungan. Warga memandang pohon beringin bukan hanya sebagai simbol kekuatan dan keteduhan, tetapi juga sebagai lambang kehidupan dan sumber kesehatan yang diwariskan dari leluhur mereka.