Cerita Rakyat Babad Gandu Versi Kebo Ladrang

URL Cerital Digital: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/baradha/article/view/47221

Pada masa silam, di tanah Jawa bagian timur berdirilah sebuah kerajaan yang makmur bernama Kerajaan Jenggalamanik, dipimpin oleh seorang raja bijak bernama Prabu Lembu Amiluhur. Di bawah kepemimpinannya, rakyat hidup tenteram, sawah-sawah hijau membentang, dan air sungai mengalir jernih membawa kehidupan bagi seluruh negeri. Namun, suatu ketika, datanglah pageblug mayangkara, wabah misterius yang membuat rakyat jatuh sakit dan bumi seakan kehilangan semangat hidupnya.

Sang raja merasa resah. Tabib dan pendeta kerajaan telah berusaha, tetapi tak ada satu pun yang mampu menemukan obat penawar bagi penyakit itu. Dalam keputusasaan, Raden Panji Asmarabangun, putra mahkota dan pewaris tahta, memutuskan untuk meninggalkan istana dan mencari sarana penyembuh demi menyelamatkan rakyatnya. Ia rela meninggalkan kemewahan dan juga istrinya yang baru dinikahi, Dewi Sekartaji, demi menunaikan tugas sebagai calon pemimpin yang bertanggung jawab.

Kepergian Raden Panji ditemani oleh dua abdi setia, Bancak dan Bencok, yang selalu mendampingi sang pangeran dalam suka dan duka. Mereka menapaki hutan, gunung, dan lembah, berharap dapat menemukan sumber kehidupan yang mampu mengusir wabah dari kerajaan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga tiga bulan lebih berlalu. Namun kabar Raden Panji tak kunjung tiba di istana. Dewi Sekartaji, yang dirundung rindu, tak sanggup lagi menahan kerinduannya pada sang suami. Dengan hati penuh tekad, ia memohon izin kepada mertuanya, Prabu Lembu Amiluhur, untuk menyusul Raden Panji. Meskipun sang raja semula menolak karena khawatir terhadap keselamatan menantunya, akhirnya ia luluh oleh keteguhan hati sang dewi.

Dewi Sekartaji berangkat bersama Kyai Semar, abdi tua bijak yang telah dipercaya keluarga kerajaan sejak lama. Sebagai bekal, Prabu Lembu Amiluhur memberikan tenggok berisi berbagai tanaman jamu dan obat-obatan, agar selama perjalanan mereka tak kekurangan penawar bagi luka dan lelah. Bagi masyarakat Jawa, tumbuhan jamu bukan sekadar bahan obat, melainkan anugerah alam yang mengajarkan keselarasan antara manusia dan bumi.

Perjalanan panjang membawa Sekartaji dan Semar menuju lereng Gunung Wilis, tempat di mana air mengalir dari mata-mata sendang yang jernih. Mereka tiba di sebuah desa bernama Ngetos, dan di sanalah terjadi peristiwa yang kelak menjadi bagian penting dari sejarah rakyat setempat.

Saat mereka beristirahat di tepi jalan, seorang pemuda bernama Cacing Kanil terpikat oleh kecantikan Dewi Sekartaji. Ia memohon agar Dewi bersedia menjadi istrinya, tetapi sang dewi menolak dengan halus. Penolakan itu membuat Cacing Kanil murka, dan pertarungan pun tak terelakkan antara dirinya dan Kyai Semar. Dalam pertempuran yang hebat, tenggok berisi tanaman jamu milik Dewi Sekartaji terjatuh dan isinya berserakan di tanah.

Kyai Semar menatap tanah yang kini ditumbuhi aneka daun dan akar jamu itu, lalu bersabda,

“Kelak anak-cucuku yang tinggal di lereng Gunung Wilis, jika sakit apa pun, akan menemukan obat di bumi ini.”

Sejak saat itu, daerah tersebut dipercaya sebagai tempat di mana berbagai tanaman obat tumbuh subur, menjadi sumber penyembuhan bagi masyarakat sekitar. Alam seakan menjawab sabda Semar dengan menumbuhkan kehidupan dari sisa-sisa perjuangan itu.

Perjalanan berlanjut. Di tengah hutan, mereka kembali dihadang oleh Yuyu Rumpung, yang juga terpikat pada kecantikan Dewi Sekartaji. Pertarungan pun terjadi lagi, dan Yuyu Rumpung akhirnya kalah oleh kesaktian Kyai Semar. Namun ujian belum berakhir. Di sebuah tempat yang lebih jauh, muncullah makhluk sakti bernama Kebo Ladrang, yang juga ingin mempersunting Dewi Sekartaji.

Pertempuran antara Kyai Semar dan Kebo Ladrang berlangsung tujuh hari tujuh malam. Langit bergemuruh, bumi bergetar, dan air sendang di sekitar mereka bergolak. Saking lelahnya, Kyai Semar duduk di atas batu besar hingga batu itu menjadi cekung. Tempat itu kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai Watu Manuk Semar, berada di dekat sebuah sumber air yang jernih.

Kyai Semar kemudian bersabda lagi,

“Kelak tempat ini dinamakan Sendang Bumi, tempat air kehidupan bagi anak cucuku.”

Pertarungan berlanjut, meninggalkan jejak di berbagai tempat yang kini menjadi desa-desa di sekitar lereng Gunung Wilis: Dusun Katogan, tempat Semar beristirahat karena kelelahan, Desa Sonopatik, yang dinamai karena Semar sempat menginjak bangkai anjing, dan Desa Sekarputih, di mana tumbuh bunga putih yang menenangkan hati.

Akhirnya, ketika keduanya terhalang oleh banjir setinggi lutut, Kyai Semar kembali bersabda,

“Tempat ini kelak disebut Gandu, karena airnya setinggi lutut dan menjadi berkah bagi kehidupan.”

Setelah menyadari bahwa kekuatan mereka seimbang, Kyai Semar dan Kebo Ladrang memutuskan untuk berdamai. Mereka sepakat menjaga keseimbangan alam di sekitar sumber air itu agar tetap menjadi tempat kehidupan bagi manusia dan makhluk lain. Di tempat mereka beristirahat, berdirilah sebuah punden, yang kini dikenal masyarakat sebagai Punden Desa Gandu.

Dari situlah kisah Babad Gandu berakar, bukan hanya sebagai legenda tentang kesaktian dan cinta, tetapi juga sebagai kisah tentang air dan tanaman obat sebagai sumber kehidupan dan penyembuhan.

Cerita rakyat Babad Gandu Versi Kebo Ladrang mengajarkan kita bahwa alam adalah guru terbaik bagi manusia. Dari tanah yang menumbuhkan tanaman obat hingga air yang memancar dari sendang, semuanya adalah bentuk kasih semesta bagi makhluk hidup. Masyarakat di lereng Gunung Wilis memaknai air dan tumbuhan sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga, karena di dalamnya tersimpan nilai keselarasan dan penyembuhan. Dari kisah ini, kita diajak untuk menghargai alam sebagai sumber pangan dan kehidupan, sebab ketika manusia menjaga bumi, bumi pun akan menyembuhkan manusia dengan kasihnya yang abadi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.