Legenda Desa Tanjungtani

URL Cerital Digital: https://radarnganjuk.jawapos.com/budaya/2175631670/mengenal-nama-dusun-dan-desa-unik-di-kota-angin-87-tanjungtani-karena-tempat-berkumpulnya-petani-nganjuk-dan-kediri?

Pada masa lampau, ketika hamparan sawah masih mengilap oleh embun pagi dan air sungai mengalir jernih di sepanjang lembah, berdirilah sebuah perkampungan kecil di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Prambon. Di sanalah hidup masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari tanah yang subur dan air yang melimpah. Mereka adalah para petani, penjaga keseimbangan alam yang setiap hari menanam benih kehidupan.

Di antara bukit kecil dan aliran sungai yang menyejukkan, terdapat sebuah tempat yang dahulu menjadi pusat pertemuan warga. Tempat itu terletak di ujung daratan yang menjorok sedikit ke arah sungai, menyerupai semenanjung kecil. Dari bentuk tanah itulah muncul sebutan “Tanjung,” sedangkan “tani” berasal dari pekerjaan utama masyarakatnya, yakni bertani. Maka, tempat itu pun dikenal dengan nama Tanjungtani, yang berarti tanah tempat para petani berkumpul dan berbagi kehidupan.

Alkisah, pada masa awal berdirinya desa, hiduplah seorang tokoh bijak yang dikenal dengan nama Mbah Deling, atau oleh sebagian warga disebut juga Mbah Nyai Plencing. Beliau dikenal sebagai sosok yang mengerti banyak hal tentang alam dan kehidupan. Di bawah bimbingannya, warga desa belajar menghormati tanah, menjaga sumber air, dan memanfaatkan hasil bumi dengan bijaksana.

Di tengah desa terdapat sebuah sumur besar yang menjadi sumber kehidupan bagi penduduk sekitar. Sumur itu tidak hanya digunakan oleh warga Tanjungtani, tetapi juga oleh masyarakat dari daerah tetangga seperti Pace, Warujayeng, hingga Kediri. Setiap pagi, suara ember dan ceret berdenting, bersahut-sahutan dengan tawa para perempuan yang mengambil air untuk memasak dan mandi. Anak-anak kecil bermain di sekitar sumur, sementara para petani mencuci tangan dan wajah mereka setelah seharian bekerja di sawah.

Meski disebut “sumur gede,” ukurannya sebenarnya tidak begitu besar. Namun, airnya tak pernah surut, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda. Dari air sumur itulah padi-padi tumbuh dengan subur, memberi hasil panen yang melimpah bagi seluruh warga. Karena manfaatnya yang luar biasa, masyarakat percaya bahwa sumur tersebut adalah berkah dari alam yang dijaga oleh roh baik dan doa para leluhur.

Seiring waktu, sumur itu mulai mengering dan akhirnya tertutup tanah. Namun, masyarakat tidak pernah melupakan jasa sumber kehidupan itu. Di tempat bekas sumur tersebut kini berdiri sebuah petilasan yang setiap tahun menjadi pusat perayaan bersih desa. Pada hari itu, seluruh warga berkumpul, membawa tumpeng dan hasil panen sebagai ungkapan syukur atas rezeki dari tanah dan air yang telah memberi kehidupan.

Tradisi selamatan di petilasan itu bukan sekadar upacara adat, melainkan bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur. Melalui ritual itu, masyarakat Tanjungtani terus mengingat pesan Mbah Deling: bahwa air adalah sumber kehidupan, dan tanah yang subur adalah anugerah yang harus dijaga bersama.

Dari cerita inilah, kita dapat memahami bahwa Tanjungtani bukan sekadar nama desa, melainkan lambang kebersamaan antara manusia dan alam. Padi yang tumbuh di tanah itu menjadi simbol kerja keras dan rasa syukur. Air dari sumur yang dulu menghidupi mereka kini menjadi kenangan akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Kisah Tanjungtani mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari bumi yang memberinya makan. Dengan menghormati tanah dan air, masyarakat mewariskan kearifan yang sederhana namun abadi: bahwa kesejahteraan sejati tumbuh dari rasa syukur, kerja sama, dan keselarasan dengan alam.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.