Legenda Desa Ngepeh

URL Cerital Digital: https://desangepeh.com/artikel/2021/2/9/sejarah-desa-ngepeh

Di lereng utara Gunung Wilis yang sejuk dan berhawa lembap, terbentang tanah luas yang dikelilingi hutan rimbun dan aliran sungai kecil. Di wilayah itu dahulu hidup sekelompok masyarakat yang tersebar dalam belasan kelompok pemukiman kecil. Mereka hidup berdampingan, saling membantu ketika musim tanam tiba, dan berbagi hasil bumi tanpa pamrih. Namun, kelompok di tengah wilayah itu belum memiliki nama desa, meski hubungan mereka sudah erat seperti keluarga besar.

Suatu malam yang mencekam, langit mendadak hitam dan hujan turun dengan deras. Petir menyambar, angin menderu, dan dedaunan berguguran di bawah terjangan badai. Para penduduk memilih berdiam di rumah masing-masing, menggenggam doa agar rumah mereka tetap berdiri kokoh. Hujan terus mengguyur hingga air menggenang setinggi lutut orang dewasa. Baru menjelang dini hari, hujan itu reda perlahan, meninggalkan tanah yang basah dan udara yang dipenuhi aroma lumpur segar.

Pagi harinya, sinar matahari menyembul dari balik awan, dan kicau burung kembali terdengar di antara pepohonan. Para penduduk keluar rumah dengan rasa syukur dan lega, lalu mulai membersihkan lingkungan. Air yang tergenang membawa banyak hal aneh, mulai dari ranting pohon hingga ikan-ikan kecil yang terbawa arus. Mereka bergotong royong membersihkan jalanan, menegakkan pagar yang roboh, dan menata ladang yang rusak.

Namun, di tengah kerja bakti itu, salah seorang warga menjerit kaget. Di dekat sebuah pohon trembesi yang menjulang besar di bagian selatan desa, tergeletak tubuh seorang laki-laki yang sudah tidak bernyawa. Pohon itu selama ini menjadi tempat orang berteduh dari terik matahari saat bekerja di ladang, sekaligus menjadi penanda arah bagi para petani. Kini, di bawah naungan pohon itu, terbujur sosok asing yang tidak dikenali siapa pun.

Penduduk pun berkumpul. Mereka memeriksa wajah dan pakaian lelaki itu, namun tak ada satu pun yang mengenalnya. Dengan penuh rasa tanggung jawab, mereka membawa jasad tersebut berkeliling ke berbagai wilayah sekitar, dari satu perkampungan ke perkampungan lain. Mereka mendatangi tiga belas kelompok pemukiman tetangga, berharap ada yang mengenali sang lelaki, namun hasilnya nihil.

Lelah dan kecewa, mereka akhirnya berkumpul kembali di bawah pohon trembesi itu. Salah seorang tetua berdiri dan berbicara lantang di hadapan semua orang. Ia berkata, “Kawan-kawanku, tak ada gunanya kita terus mencari siapa dia. Mungkin memang bukan takdir kita untuk mengetahui asal usulnya. Tapi lihatlah, karena lelaki ini, kita semua berkumpul di sini, saling menolong, saling peduli. Bukankah ini pertanda baik bahwa kita seharusnya bersatu?”

Ucapan itu menggugah hati seluruh warga. Mereka menyadari bahwa kejadian itu bukan sekadar musibah, melainkan panggilan untuk menyatukan diri. Maka mereka sepakat membentuk satu pemerintahan bersama agar hubungan di antara mereka lebih kuat. Sebelum melangkah lebih jauh, mereka sepakat memberi nama bagi wilayah yang baru lahir dari kebersamaan itu.

Sang tetua kembali berbicara, “Kita ini berasal dari tiga belas kelompok yang menyatu. Jika disatukan, wilayah kita menjadi yang terbesar dan terkuat di sekitar sini. Dalam bahasa Jawa, kita disebut ngepehi, artinya menguasai atau menaungi yang paling banyak. Maka, kita namai desa ini Ngepeh.”

Serentak semua warga menyambut dengan suara lantang, “Setuju!” Hari itu juga mereka menguburkan jasad lelaki tak dikenal itu di sebelah utara sungai, tak jauh dari akar pohon trembesi. Sejak saat itu, tempat tersebut dijadikan pemakaman umum Desa Ngepeh, dan pohon trembesi besar itu terus tumbuh subur seolah menjaga kedamaian desa.

Hingga kini, masyarakat Ngepeh masih mengenal pohon trembesi sebagai simbol keteduhan dan persatuan. Kanopinya yang lebar menaungi jalan-jalan desa, memberi kesejukan bagi siapa pun yang melintas. Kayunya digunakan secukupnya untuk bahan bakar, menjadi bagian dari kehidupan tanpa pernah dieksploitasi.

Dari kisah inilah lahir pesan yang tak lekang oleh waktu. Bahwa dari peristiwa duka dapat tumbuh benih kebersamaan, dan dari alam yang sederhana dapat terpancar nilai-nilai luhur. Pohon trembesi menjadi saksi bagaimana manusia dapat bersatu demi kebaikan bersama, menjaga tanah, air, dan sesamanya dengan hati yang penuh kasih dan rasa syukur.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.