Di sebuah desa tenang bernama Aéng Bâjâ di Kabupaten Sumenep, hidup seorang ulama yang dikenal karena kebijaksanaan dan keteguhannya dalam beribadah. Namanya Syekh Arif Muhammad. Pada masa itu, desa tersebut sedang dilanda musim paceklik yang panjang. Tanaman pangan mengering, sumur mulai dangkal, dan para warga kehilangan harapan. Ladang yang dahulu hijau kini berubah menjadi tanah retak yang tandus. Dalam keputusasaan itu, mereka mendatangi Syekh Arif Muhammad untuk memohon pertolongan.
Syekh Arif Muhammad mendengarkan keluh kesah warga dengan penuh empati. Ia lalu berjanji akan melakukan tirakat untuk memohon turunnya hujan dan mengakhiri kesengsaraan yang menimpa desa. Dengan hati yang mantap, ia memulai tirakatnya, berserah diri pada Sang Pencipta dan memohon berkah bagi masyarakat yang sangat bergantung pada hasil bumi mereka.
Sementara itu, para warga menghitung hari dengan penuh harap. Mereka mengingat janji Syekh Arif Muhammad, memohon agar doa sang ulama dikabulkan. Hari demi hari berlalu, hingga genap empat puluh satu hari ia menjalani tirakatnya. Pada hari keempat puluh dua, terjadi sebuah peristiwa yang sudah lama dinantikan. Langit tiba-tiba gelap dan angin mulai membawa aroma hujan. Tak lama kemudian, hujan turun dengan sangat deras membasahi seluruh desa.
Air hujan yang mengguyur bumi menjadi kabar gembira bagi seluruh warga. Musim paceklik pun berakhir. Tanah yang selama ini kering dan retak perlahan menjadi lembap kembali. Bibit tanaman yang tertidur di bawah tanah mulai bangkit. Kebun milik warga yang sempat putus asa kini tumbuh subur kembali. Dalam beberapa waktu, tanaman pangan seperti padi, jagung, dan ketela kembali mengisi ladang mereka. Panen pun kembali dirayakan dengan syukur yang mendalam.
Para warga segera teringat pada janji Syekh Arif Muhammad. Mereka menyadari bahwa doa dan tirakat yang ia lakukan telah menjadi perantara turunnya berkah dari langit. Sejak saat itu, beliau dihormati sebagai sosok pandai dan berilmu tinggi. Ketika beliau wafat, masyarakat desa mengeramatkan makamnya sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan kebijaksanaannya. Makam itu diberi nama Bhuju Pongkeng, sesuai dengan lokasi keberadaannya di Dusun Pongkeng.
Kisah ini juga memiliki hubungan yang erat dengan pangan masyarakat setempat. Bagi penduduk Sumenep, pangan bukan hanya soal tanaman yang tumbuh dan dipanen, tetapi juga simbol keberkahan dan ketergantungan manusia pada alam. Musim hujan dianggap sebagai anugerah yang menumbuhkan segala jenis tanaman pangan yang menjadi sumber kehidupan. Hujan yang turun setelah tirakat Syekh Arif Muhammad dipandang sebagai jawaban atas harapan kolektif penduduk dan menjadi pelajaran bahwa pangan lahir dari doa, usaha, dan keselarasan antara manusia dan alam.
Dalam kehidupan masyarakat Madura, terutama di wilayah Sumenep, hasil bumi seperti jagung, padi, dan umbi menjadi sumber pangan utama yang menghidupi keluarga. Mereka memperlakukan tanaman itu dengan penuh hormat, percaya bahwa keberhasilan panen adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang harus disyukuri. Hujan bukan hanya air, tetapi berkah yang menentukan hidup mati tanaman pangan mereka.
Pada akhirnya, cerita Bhuju Pongkeng mengajarkan nilai kearifan lokal yang sangat dalam. Masyarakat tidak pernah memisahkan doa dari usaha. Mereka merawat tanah dengan kerja keras, tetapi tidak lupa mengandalkan kekuatan spiritual untuk menjaga keseimbangan alam. Kisah ini mengingatkan kita bahwa pangan adalah anugerah yang selalu terkait dengan kesabaran, syukur, dan keteguhan hati. Selama manusia bersikap selaras dengan alam dan menghormati Sang Pencipta, keberkahan akan selalu menemukan jalannya.