Bhuju’ Soghi

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK24203/mozaik-careta-dari-madhura

Di tanah Sumenep yang sarat dengan kisah religius dan tradisi pangan, nama Syekh Ali Buddin dikenal sebagai sosok yang membawa keberkahan. Selain memiliki karamah yang membuat segenggam beras dapat bertahan berhari hari, beliau juga dikenal karena kemurahan hatinya dalam membantu masyarakat pada masa sulit. Suatu ketika, Syekh Ali Buddin membagikan persediaan berasnya kepada warga yang membutuhkan. Banyak orang datang dari berbagai penjuru desa dengan harapan mendapatkan sedikit rezeki untuk keluarga mereka.

Namun persediaan beras itu terbatas. Setelah dibagikan kepada banyak warga, beras yang tersisa pun habis. Beberapa orang yang datang belakangan kecewa karena tidak mendapat bagian. Mereka pulang dengan wajah lesu karena di rumah mereka tidak ada lagi makanan yang dapat dimasak. Menyaksikan keadaan ini, hati Syekh Ali Buddin tergerak oleh rasa iba yang mendalam. Ia tidak ingin ada satu pun warga pulang dengan tangan kosong.

Dengan penuh ketulusan, Syekh Ali Buddin kemudian mengambil air rendaman beras yang tadinya digunakan saat persiapan memasak. Ia memberikan air tersebut kepada orang orang yang tidak kebagian. Awalnya, mereka bingung dan tidak begitu yakin bahwa air rendaman beras dapat mengenyangkan. Namun karena kepercayaan mereka kepada Syekh Ali Buddin sangat besar, mereka pun menerima air itu dengan harapan akan muncul keajaiban.

Tak disangka, ketika air tersebut dimasak di rumah masing masing, terjadilah sesuatu yang luar biasa. Air bening yang tampak sederhana itu berubah menjadi nasi yang cukup untuk satu keluarga. Nasi itu tidak hanya mengenyangkan tetapi juga terasa lembut dan menyehatkan. Para warga tertegun sekaligus bersyukur. Mereka melihat sendiri bagaimana air rendaman beras dari Syekh Ali Buddin memiliki keberkahan yang sama seperti beras miliknya.

Cerita mengenai air beras ajaib ini kemudian menyebar cepat di seluruh penjuru Sumenep. Masyarakat melihat bahwa pangan tidak hanya hadir dalam bentuk fisik yang melimpah, tetapi juga dalam bentuk keberkahan yang menyertai setiap tetes, setiap butir, dan setiap usaha untuk mengelola makanan dengan ikhlas. Dalam konteks budaya pangan Jawa Timur, khususnya Madura, beras adalah simbol kehidupan. Menghargai setiap bagian dari beras termasuk bahkan air rendamannya adalah wujud penghormatan terhadap sumber pangan yang dianggap sakral.

Masyarakat setempat memahami bahwa pangan tidak boleh disia-siakan. Apa yang dianggap tidak berguna bisa menjadi penyelamat jika digunakan dengan bijaksana. Air beras yang biasanya dibuang ternyata menyimpan potensi kebaikan yang besar. Dari kisah Syekh Ali Buddin, masyarakat belajar bahwa keberkahan pangan muncul dari hati yang tulus, rasa saling membantu, dan keyakinan bahwa Tuhan menyediakan rezeki dalam bentuk yang tak terduga.

Pada akhirnya, kisah air beras ajaib ini memberikan pesan moral yang penting. Kearifan lokal mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan pangan adalah hubungan yang penuh penghormatan. Setiap elemen alam yang membantu kita bertahan hidup tidak pernah hadir tanpa makna. Masyarakat diajak untuk tidak mengabaikan hal hal kecil, karena dalam kesederhanaan itu bisa tersimpan rezeki yang besar. Sikap syukur, rasa empati, dan kepedulian terhadap sesama adalah nilai utama yang diwariskan dari cerita ini. Dengan menjaga pangan dan saling membantu, masyarakat menjaga keseimbangan hidup yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.