Bhuju’ Asta Karang Sabu

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK24203/mozaik-careta-dari-madhura

Di tanah Sumenep yang kaya dengan sejarah dan kisah para leluhur, terdapat cerita tentang seorang tokoh kerajaan bernama Raden Tumenggung Kanduruan. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang bijak, dihormati karena ketegasannya dalam menjaga ketertiban serta kelembutannya dalam memperhatikan kebutuhan rakyat. Tahun demi tahun berlalu, dan seperti manusia pada umumnya, usia Raden Tumenggung Kanduruan semakin menua. Pada akhirnya, beliau wafat akibat penyakit yang dideritanya.

Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat dan para bangsawan. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, tubuh Raden Tumenggung Kanduruan dimakamkan di sebuah kawasan yang kelak dikenal dengan nama Asta Karang Sabu. Pemilihan nama itu bukan tanpa alasan. Di area pemakaman tersebut tumbuh pohon pohon sabu atau sawo yang rindang, memberikan keteduhan bagi siapa saja yang datang berziarah. Pohon sawo itu seakan menjadi penjaga setia yang menemani tidur panjang para bangsawan yang dimakamkan di sana.

Tidak hanya Raden Tumenggung Kanduruan yang dikebumikan di tempat tersebut. Pangeran Lor dan Pangeran Wetan, dua tokoh penting lainnya dalam lingkup kerajaan, juga dimakamkan di lokasi yang sama. Seiring waktu, masyarakat memberi gelar khusus kepada para tokoh kerajaan yang dimakamkan di Karang Sabu. Mereka menyebutnya Bhuju Karang Sabu, gelar yang mencerminkan penghormatan mendalam kepada para pemimpin masa lalu.

Dalam kisah ini, keberadaan pohon sawo memiliki makna penting. Buah sawo merupakan salah satu jenis pangan lokal yang telah lama tumbuh di Sumenep. Rasanya yang manis dan lembut menjadikannya buah yang digemari masyarakat. Bagi warga sekitar Asta Karang Sabu, pohon sawo bukan hanya pelengkap alam, melainkan simbol keberkahan yang terus hidup di tempat peristirahatan para leluhur. Pohon itu memberikan buah yang menjadi sumber konsumsi, energi, dan juga pengingat bahwa alam selalu menyediakan rezeki bagi manusia.

Jenis pangan ini memiliki fungsi yang mendalam dalam kehidupan masyarakat. Buah sawo sering dianggap sebagai lambang kesuburan dan ketenangan. Rasanya yang manis mengingatkan mereka bahwa dalam hidup selalu ada hal hal yang patut disyukuri, meski keadaan sulit sekalipun. Masyarakat setempat memanfaatkan sawo sebagai sumber vitamin, bahan olahan makanan, bahkan dijadikan bekal saat bekerja di ladang. Pohon pohon itu tumbuh subur berkat tanah yang dijaga dengan baik dan sikap masyarakat yang senantiasa menghormati alam.

Kisah Bhuju Karang Sabu mengajarkan bahwa hubungan antara manusia dengan alam selalu berjalan dalam dua arah. Para leluhur yang dimakamkan di sana dihormati oleh masyarakat, sementara pohon sawo yang tumbuh di atas tanah itu menjadi penanda bahwa alam pun menghargai kehadiran manusia dengan memberi pangan. Pada akhirnya, buah sawo menjadi simbol kehangatan dan keberlanjutan hidup.

Dari cerita ini, kita dapat memetik pesan moral yang berharga. Kearifan lokal Sumenep menunjukkan bahwa menjaga alam sama artinya dengan menjaga kehidupan sendiri. Pohon sawo yang rindang dan buahnya yang manis menjadi gambaran bahwa keberkahan muncul ketika manusia hidup selaras dengan alam. Dengan menghormati leluhur, menjaga lingkungan, dan mensyukuri pangan yang diberikan bumi, masyarakat meneruskan nilai nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.