Bhuju’ Gung Panda

URL Cerital Digital: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK24203/mozaik-careta-dari-madhura

Di salah satu sudut wilayah Sumenep, terdapat kisah tentang seorang ulama yang dikenal karena kebijaksanaan, kesalehan, dan karamahnya. Beliau bernama Gung Amir Abdullah. Setiap hari ia berjalan dari satu desa ke desa lain untuk berdakwah, menyampaikan ajaran kebaikan, dan membimbing masyarakat agar hidup dengan penuh rasa syukur.

Pada suatu sore yang tenang, ketika langit mulai berubah jingga dan angin membawa aroma tanah yang hangat, Gung Amir Abdullah sedang dalam perjalanan pulang setelah berdakwah di sebuah daerah. Ketika melewati jalan setapak yang dikelilingi pohon pohon besar, ia berpapasan dengan seorang warga desa. Orang itu tampak terburu buru sambil memanggul sekantung tatal, yaitu potongan kayu sisa bahan bangunan yang biasanya digunakan sebagai kayu bakar.

Dengan ramah, Gung Amir Abdullah menyapa warga tersebut. Setelah salam terbalas, beliau bertanya dengan nada lembut tentang ke mana warga itu akan membawa dodol yang sedang ia bawa. Warga itu sontak terkejut, lalu buru buru menjelaskan bahwa isi kantungnya bukan dodol melainkan tatal kayu. Namun Gung Amir Abdullah tetap tersenyum dan kembali mengatakan bahwa yang dibawa orang itu adalah dodol. Warga tersebut kebingungan, namun ia tidak berani membantah lebih jauh dan melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, warga itu membuka kantung yang sejak tadi ia pikul di bahunya. Betapa terperanjatnya ia ketika melihat bahwa kantung itu tidak lagi berisi tumpukan tatal. Di dalamnya kini terdapat dodol yang harum dan masih hangat, makanan manis yang menjadi salah satu pangan tradisional khas Madura. Dodol itu tampak lembut dan lengket, baunya mengisi seluruh ruangan dan membuat anggota keluarganya keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi.

Kabar mengenai kejadian ajaib ini cepat menyebar dari satu rumah ke rumah lain. Warga yang mendengar kisah itu meyakini bahwa perubahan tatal menjadi dodol adalah pertanda keberkahan yang diberikan melalui Gung Amir Abdullah. Dodol sendiri merupakan pangan yang penting bagi masyarakat Sumenep. Selain menjadi camilan tradisional, dodol juga sering disajikan dalam acara syukuran, perayaan panen, dan upacara adat. Teksturnya yang manis dan tahan lama membuatnya cocok sebagai bekal perjalanan jauh maupun bingkisan untuk tamu.

Dalam budaya pangan Madura, dodol bukan sekadar makanan manis. Ia melambangkan kehangatan keluarga, kebersamaan, serta hasil dari ketekunan dalam mengolah bahan pangan lokal seperti beras ketan, gula aren, dan santan kelapa. Proses memasak dodol membutuhkan kesabaran dan tenaga yang besar. Karenanya, kehadiran dodol ajaib yang muncul tanpa proses panjang dianggap sebagai tanda rezeki yang datang dari ketulusan hati.

Cerita ini memberikan pesan moral yang mendalam. Masyarakat diajarkan bahwa rezeki dapat datang dari arah yang tidak disangka ketika seseorang menjalani hidup dengan niat baik dan hati yang bersih. Kisah ini juga memperlihatkan betapa pentingnya menghargai pangan tradisional sebagai simbol budaya dan identitas diri. Dodol yang manis menjadi pengingat bahwa hidup pun dapat terasa manis ketika dilandasi rasa syukur dan saling menghormati.

Melalui kisah dodol ajaib Gung Amir Abdullah, kita dapat melihat bagaimana kearifan lokal Jawa Timur mengajarkan hubungan harmoni antara manusia, pangan, dan Sang Pencipta. Alam menyediakan bahan makanan, manusia mengolahnya dengan cinta, dan keberkahan akan hadir ketika aktivitas itu dilakukan dengan ketulusan. Nilai nilai inilah yang terus hidup dalam ingatan masyarakat hingga kini.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.