Pada suatu petang ketika awan mulai bergulung pekat di langit Sumenep, seorang tokoh bijaksana tengah berjalan pulang dari perjalanannya. Udara yang semula hangat berubah menjadi lembap, angin bertiup membawa tanda bahwa hujan akan segera turun. Benar saja, butiran hujan jatuh satu per satu hingga akhirnya berubah menjadi deras. Langkahnya melambat karena perjalanan yang ditempuh masih panjang dan jalan di hadapannya semakin licin oleh air.
Melihat hujan semakin mengguyur, ia memutuskan untuk mencari tempat berteduh. Di depan matanya berdiri sebuah pohon beringin besar di Desa Batuan. Pohon itu tampak seperti penjaga tua yang kokoh, akarnya menjuntai dan batangnya besar hingga memerlukan tiga orang dewasa untuk memeluk seluruh lingkarnya. Daunnya rimbun dan lebat, menciptakan atap alami yang dapat melindungi siapa pun yang berdiri di bawahnya.
Ia segera mendekat dan berdiri di bawah naungan pohon beringin itu. Hujan yang turun deras tidak mampu menyentuh pakaiannya. Daun yang berjajar rapat memecah derasnya air sehingga hanya beberapa tetes kecil yang jatuh ke tanah. Suasana di bawah beringin terasa teduh dan damai, meski langit di luar tampak gelap. Di sanalah ia berhenti sejenak, menyadari betapa bijaknya mengambil waktu untuk berteduh sebelum melanjutkan perjalanan yang masih jauh.
Meskipun kisah ini tidak langsung menyebutkan pangan, masyarakat Jawa Timur memiliki cara khas dalam menghubungkan peristiwa alam dengan kehidupan sehari hari, termasuk soal pangan. Pohon beringin dianggap melambangkan keteduhan dan perlindungan, dua hal yang dalam tradisi setempat sering dikaitkan dengan penyediaan makanan di rumah. Beringin memberi naungan sebagaimana pangan memberi kekuatan. Dalam banyak tradisi masyarakat desa, tempat berteduh atau pohon besar sering menjadi titik berkumpul untuk membagi hasil panen, memasak pangan bersama, atau sekadar beristirahat sambil menikmati makanan sederhana seperti jagung rebus atau singkong hangat.
Kisah berteduh di bawah beringin ini mengingatkan bahwa pangan tidak hanya hadir di piring, tetapi juga dalam nilai nilai yang membentuk kehidupan masyarakat. Pohon memberi perlindungan, tanah memberi hasil, hujan memberi kesuburan, dan manusia diberi kemampuan untuk merawat semua itu agar berubah menjadi makanan yang menghidupi keluarga dan komunitas.
Dari legenda singkat ini, kita dapat memetik pelajaran bahwa dalam perjalanan hidup yang panjang, manusia perlu tahu kapan harus berhenti sejenak, mengambil jeda, dan memanfaatkan anugerah alam yang tersedia. Kearifan lokal Jawa Timur mengajarkan bahwa alam selalu memberi, baik berupa tempat berteduh dari hujan, maupun bahan pangan yang menguatkan tubuh. Selama manusia hidup selaras dengan alam dan menghargai apa pun yang diberikan, maka akan selalu ada kekuatan untuk melanjutkan perjalanan, betapapun jauh dan sulitnya jalan di depan.