Ketika rombongan Raden Agung Rawit memutuskan menetap di pulau yang kelak dikenal sebagai Gili Raja, semangat mereka begitu membara. Tanah yang masih berupa hutan lebat itu mereka garap dengan gotong royong. Pohon pohon yang menjulang ditebang, semak belukar dibersihkan, dan batang kayu yang kokoh disusun rapi menjadi rumah sederhana. Rombongan itu kemudian menamai hunian baru mereka sebagai dhalem, yang kelak menjadi tempat tinggal pertama di pulau tersebut.
Hari hari awal penuh kerja keras itu membuat mereka semakin memahami beratnya membuka lahan. Belum lama setelah pemukiman berdiri, mereka menghadapi tantangan baru. Ketersediaan air kembali menjadi masalah besar. Sumber air yang ada letaknya sangat jauh dari tempat tinggal mereka dan perjalanan untuk mengambil air terasa berat, terutama setelah tubuh mereka lelah bekerja sejak pagi.
Raden Agung Rawit melihat kegelisahan rombongannya. Sebagaimana sebelumnya ketika mereka kehausan dalam perjalanan, ia tidak ingin membiarkan rakyatnya kembali kesulitan. Dengan tenang ia mengamati tanah di sekitar pemukiman lalu berdiri tegap. Semua anggota rombongan berhenti bekerja dan memperhatikan gerak pemimpin mereka.
Tanpa banyak bicara, Raden Agung Rawit menancapkan tongkatnya ke tanah. Keheningan yang menyertai detik detik itu pecah saat dari lubang bekas tongkat tersebut memancar air jernih yang mengalir deras. Para pengikutnya tersenyum lega, bahkan beberapa di antara mereka tak kuasa menahan ucapan syukur. Air itu segera ditampung untuk kebutuhan minum, memasak, dan membersihkan diri.
Melihat air terus mengalir tanpa henti, rombongan kemudian menggali sumber itu agar menjadi lebih dalam. Sumur baru pun tercipta dan mereka menamainya Somor Dhalem atau Dhalem Agung, mengikuti lokasi pemukiman pertama mereka. Sejak saat itu sumur tersebut menjadi sumber kehidupan yang benar benar berarti bagi mereka. Air dari Somor Dhalem membantu warga membuka lahan pertanian, menanam umbi umbian, padi gogo, sayuran liar yang bisa dibudidayakan, serta berbagai jenis tanaman pangan yang bertahan di tanah pulau yang masih muda.
Keberadaan air mengubah keadaan secara menyeluruh. Tanah yang semula keras menjadi lebih subur. Kebun kebun mulai tumbuh di sekitar pemukiman. Hasil panen sederhana namun melimpah cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap keluarga. Dengan air yang terjamin, kegiatan memasak, menyimpan bahan makanan, dan mengolah hasil kebun menjadi lebih mudah. Air dari Somor Dhalem menjadi nadi kehidupan, simbol bahwa pangan tidak pernah berdiri sendiri tetapi selalu ditopang oleh alam.
Kisah Somor Dhalem mengajarkan bahwa kearifan lokal tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi juga dalam cara masyarakat menghargai air sebagai sumber pangan. Raden Agung Rawit memperlihatkan bahwa pemimpin sejati adalah yang memastikan rakyatnya dapat hidup dari tanah yang mereka pijak. Air yang memancar dari tongkatnya menjadi pengingat bahwa kerja keras, doa, dan hubungan harmonis dengan alam dapat melahirkan berkah yang tak terduga.
Dari cerita ini, kita belajar bahwa pangan tidak hanya berasal dari tanaman dan hasil bumi, tetapi juga dari kemampuan manusia menjaga keselarasan dengan lingkungan. Somor Dhalem menjadi simbol bahwa alam akan memberi jika manusia bersedia merawatnya. Sebuah pesan yang tetap relevan hingga kini, bahwa keberlimpahan pangan lahir dari tanah yang dihargai, air yang dijaga, serta kebijaksanaan dalam menjalani hidup bersama alam.