Upacara Unan Unan

URL Cerital Digital: https://timurjawa.home.blog/2018/06/21/upacara-unan-unan-kisah-toleransi-suku-tengger

Di kaki Gunung Bromo yang dikelilingi kabut lembut dan ladang hijau, masyarakat Tengger terus menjaga sebuah tradisi besar yang hanya berlangsung lima tahun sekali. Upacara itu dikenal sebagai Unan Unan, sebuah ritual adat yang menyatukan seluruh warga tanpa memandang agama. Di sinilah hasil pangan berupa kerbau, jajanan pasar, dan berbagai sesaji dipersiapkan dengan penuh kehormatan untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kesejahteraan.

Sejak pagi, suasana Desa Ngadas dipenuhi aktivitas. Dukun sepuh suku Tengger, Sutomo, menuntun seekor kerbau diikuti anak anak desa yang membawa peralatan. Kerbau itu adalah bagian utama dari sesaji. Dagingnya akan diolah menjadi berbagai hidangan persembahan, sedangkan kepala, kulit, dan kaki dibiarkan utuh untuk melengkapi rangkaian ritual. Pada saat kerbau disembelih para pemuda menyiapkan tempat, sementara para ibu sibuk mengolah daging menjadi 100 tusuk sate kerbau, 100 tumpeng, dan 100 jenis jajanan pasar. Semua makanan itu dihias dengan bunga dan diletakkan dengan rapi di atas ancak yaitu keranda bambu yang digunakan sebagai wadah sesaji.

Di balik makanan yang diolah terdapat makna yang sangat dalam. Kerbau melambangkan kekuatan dan keteguhan, sementara jajanan pasar dan tumpeng adalah simbol kelimpahan yang diberikan oleh alam. Semua hidangan pangan ini tidak hanya dibuat sebagai kurban, tetapi sebagai ungkapan syukur dan harapan akan keselamatan bagi seluruh desa. Upacara Unan Unan mengajarkan bahwa pangan memiliki kedudukan suci karena berasal dari tanah yang memberi kehidupan.

Sementara persiapan berlangsung seluruh warga dari berbagai agama tampak bekerja bersama. Umat Hindu bersiap menuju Pura Sapto Argo dengan pakaian adat yang rapi. Para lelaki memakai udeng dan baju bersih, sementara para perempuan berkebaya sambil membawa buah buahan dalam nampan. Di tempat lain umat Buddha sedang mempersiapkan sembahyang Reboan di vihara. Tidak jauh dari sana warga Muslim menjalankan puasa dan salat zuhur di musala. Semuanya terjadi dalam suasana damai yang menjadi ciri khas masyarakat Tengger.

Hari itu dianggap istimewa karena tiga perayaan besar terjadi bersamaan yaitu Galungan bagi umat Hindu, Waisak bagi umat Buddha, dan puasa bagi umat Islam. Meskipun berbeda keyakinan seluruh warga kemudian bersatu mengikuti upacara Unan Unan. Mereka percaya bahwa ritual adat adalah milik bersama dan kehadiran setiap individu menjadi bentuk bakti kepada leluhur serta pemelihara harmoni desa.

Dalam ritual ini sesaji yang terdiri dari kerbau, sate kerbau, tumpeng, dan jajanan pasar diarak menuju pura sebagai pusat pelaksanaan upacara. Semua unsur pangan yang dipersembahkan mengingatkan warga bahwa kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari hasil bumi dan hewan ternak yang telah diberi oleh alam. Dengan mengembalikan sebagian dari apa yang mereka terima, warga Tengger meneguhkan siklus saling menjaga antara manusia dan lingkungan.

Upacara Unan Unan bukan hanya tentang kurban atau ritual. Ia juga merupakan simbol persaudaraan dan toleransi yang telah menjadi darah daging masyarakat Tengger. Mereka membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kebersamaan, bahkan memperkuat hubungan antarwarga. Warga Hindu, Buddha, dan Muslim saling menghormati dan saling membantu, baik dalam kehidupan sehari hari maupun dalam merawat adat dan pangan yang menjadi sumber kehidupan.

Tradisi ini mengajarkan nilai berharga tentang menjaga keseimbangan alam dan membangun kehidupan yang damai. Pangan yang tumbuh dari tanah Tengger tidak hanya mengisi perut, tetapi juga menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan leluhur dan alam semesta. Melalui Unan Unan masyarakat mengingatkan kita semua bahwa keharmonisan tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari rasa saling menghargai serta penghormatan pada sumber kehidupan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.