
Di wilayah pegunungan Tengger yang diselimuti kabut pagi, masyarakat setempat masih menyimpan sebuah kisah kuno yang menjadi dasar dari salah satu upacara terpenting mereka, yaitu Kasada. Kisah itu berasal dari masa keruntuhan Majapahit, ketika rakyat yang kehilangan tanah dan rumah harus mencari tempat baru untuk bertahan hidup. Dalam pelarian itu, rombongan rakyat terpisah menjadi dua. Sebagian menuju Pulau Bali, sementara sebagian lainnya memilih berhenti di sebuah gunung yang mereka anggap suci, Gunung Brahma yang kelak dikenal sebagai Gunung Bromo.
Di antara rombongan itu terdapat pasangan muda Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah menetap dan mendirikan permukiman baru di kawasan Tengger, keduanya kemudian diangkat menjadi pemimpin. Mereka disebut Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, gelar bagi pemimpin yang bijak dan menjaga perdamaian. Nama Tengger sendiri dipercaya berasal dari gabungan nama keduanya, Anteng dan Seger, yang kemudian dimaknai sebagai Tenggering Budi Luhur, simbol kebersihan hati serta keteguhan moral masyarakat Tengger.
Meski pemukiman tumbuh makmur dan masyarakat hidup damai, kebahagiaan pasangan pemimpin ini belum lengkap. Roro Anteng dan Joko Seger lama tidak dikaruniai keturunan. Setelah bertahun tahun berharap, keduanya memutuskan naik ke puncak Gunung Bromo untuk bersemedi. Mereka memohon kepada Sang Hyang Widhi agar diberi anak. Di tengah keheningan puncak gunung yang disertai tiupan angin dingin, terdengarlah suara gaib yang menjanjikan terkabulnya permohonan mereka. Namun syaratnya berat. Anak bungsu mereka kelak harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.
Karena penuh harap, pasangan itu menyanggupi syarat tersebut. Waktu demi waktu berlalu dan Sang Hyang Widhi benar benar mengabulkan permohonan mereka. Roro Anteng melahirkan banyak anak hingga jumlahnya mencapai dua puluh lima orang. Anak bungsu yang dinanti nantikan diberi nama Raden Kusuma, seorang anak yang tumbuh penuh kasih sayang dan menjadi permata hati keluarga.
Namun kebahagiaan itu berubah menjadi kebimbangan ketika tiba saatnya menepati janji. Naluri sebagai orang tua membuat mereka tidak sanggup mengorbankan Raden Kusuma. Mereka memilih untuk mengingkari perjanjian tersebut. Ketika janji tidak dipenuhi, malapetaka datang. Awan gelap menyelimuti desa, dan Gunung Bromo menyemburkan api. Dalam kekacauan itu, Raden Kusuma terseret selendang api dan menghilang di kawah gunung. Pada saat itulah terdengar suara gaib yang diyakini sebagai suara Raden Kusuma.
Ia berkata bahwa pengorbanannya telah menyelamatkan seluruh desa. Ia meminta masyarakat Tengger untuk hidup rukun, memuja Sang Hyang Widhi, dan setiap bulan Kasada pada hari keempat belas mempersembahkan hasil bumi sebagai sesaji ke kawah Gunung Bromo. Sesaji berupa hasil pertanian dan peternakan yang menjadi pangan pokok masyarakat Tengger harus diberikan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada alam.
Mulai saat itulah upacara Kasada dijalankan tanpa putus. Masyarakat Tengger menyiapkan kentang, jagung, sayur segar, dan hasil ternak terbaik sebagai persembahan. Semua hasil bumi itu dipandang sebagai anugerah alam yang harus dijaga dan dibalas dengan ketulusan. Pada hari Kasada mereka berjalan ke kawah gunung sambil membawa sesaji, memohon keselamatan dan kesuburan tanah. Setiap persembahan yang dilemparkan adalah ungkapan syukur atas hidup, berkah, dan pangan yang terus menghidupi mereka.
Kisah Joko Seger dan Roro Anteng mengingatkan kita bahwa setiap butir hasil bumi lahir dari kerja keras manusia dan kemurahan alam. Tradisi Kasada bukan sekadar ritual, tetapi wujud pemahaman bahwa pangan adalah penghubung antara manusia, leluhur, dan alam semesta. Melalui ritual ini masyarakat Tengger menjaga keseimbangan alam, memelihara kesuburan tanah, dan menumbuhkan rasa syukur yang diwariskan dari generasi ke generasi.