
Di lereng Gunung Bromo yang diselimuti hawa dingin, terdapat sebuah desa yang menyimpan tradisi kuno yang penuh makna. Desa itu adalah Ngadas, sebuah wilayah Tengger yang masih memegang teguh adat nenek moyang, termasuk dalam hal yang paling sakral dalam kehidupan manusia yaitu kematian. Salah satu tradisi penting yang tetap dilestarikan warga Tengger adalah Entas-entas, sebuah upacara yang diyakini mampu membantu arwah leluhur mencapai tempat terbaik di alam berikutnya.
Tradisi Entas-entas berakar pada masa Megalitikum, masa ketika masyarakat kuno memiliki kedekatan spiritual dengan alam. Dalam kepercayaan warga Tengger, manusia bukan hanya tubuh, tetapi gabungan unsur tanah, kayu, air, dan panas. Ketika seseorang meninggal, unsur unsur ini harus dikembalikan ke alam melalui rangkaian ritual yang dilaksanakan dengan penuh ketelitian dan penghormatan.
Dalam upacara ini keluarga menyiapkan berbagai elemen pangan yang menjadi simbol kehidupan. Bambu digunakan sebagai bahan pembuatan kulak yaitu wadah kecil yang diisi beras dan menjadi lambang dari keluarga yang ditinggalkan. Bambu dipilih karena memiliki makna kesederhanaan sekaligus ketangguhan. Sementara beras melambangkan sumber pokok kehidupan. Kedua bahan pangan ini menjadi bagian penting dari ritual Entas-entas yang tidak hanya berbicara tentang kepergian seseorang, tetapi juga tentang kesinambungan kehidupan.
Ritual dimulai dari tahap ngresik yaitu membersihkan lingkungan dan persiapan awal. Lalu berlanjut ke mepek yang menata berbagai perlengkapan upacara. Pada tahap mbeduduk keluarga dan kerabat mulai memasuki proses memohon restu kepada leluhur. Tahap berikutnya adalah lukatan yaitu pembersihan yang menjadi inti dari perjalanan arwah menuju alam baru. Kemudian ditutup dengan bawahan yang menjadi momen penyerahan dan pembebasan.
Pada saat pelaksanaan Entas-entas sosok yang telah meninggal dihadirkan melalui boneka petra. Boneka ini dibuat dengan hati hati menggunakan dedaunan dan bunga, kemudian disucikan oleh pemangku adat. Proses ini mengingatkan masyarakat bahwa unsur unsur alam yang digunakan untuk membuat boneka adalah bagian dari kehidupan dan mengembalikannya melalui api adalah bentuk penghormatan pada siklus alam yang terus berputar.
Keluarga yang melaksanakan upacara juga menyiapkan kain panjang untuk dibentangkan. Di bawah kain itu mereka berkumpul dan menyaksikan pembakaran boneka petra yang merupakan simbol dari pengembalian unsur panas. Dalam kepercayaan Tengger pembakaran ini bukan tindakan perpisahan penuh duka, tetapi sebuah penghantaran agar arwah mendapatkan kedamaian. Bahkan hewan ternak seperti kambing putih kerap dijadikan bagian upacara sebagai kendaraan simbolis bagi arwah menuju alam leluhur.
Pelaksanaan Entas-entas tidak selalu dilakukan tepat setelah seseorang meninggal. Kadang upacara baru terlaksana pada hari ke seribu atau minimal hari ke empat puluh empat. Hal ini bergantung pada kesiapan keluarga karena prosesnya panjang dan membutuhkan banyak persiapan termasuk berbagai bahan pangan untuk sesaji dan kebutuhan ritual.
Tradisi ini menjadi pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya rasa syukur dan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Bambu yang tumbuh di lereng pegunungan, beras yang dipanen dari ladang Tengger yang dingin, serta dedaunan dan bunga yang menghiasi boneka petra semuanya adalah anugerah alam yang digunakan dalam rangkaian upacara dengan penuh kehormatan.
Melalui Entas-entas warga Tengger menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat menuntun manusia memahami makna kehidupan dan kematian. Setiap upacara menjadi cara untuk merawat ikatan keluarga, memperkuat solidaritas desa, serta menjaga keseimbangan alam yang telah memberi kehidupan bagi mereka sejak dahulu. Tradisi ini mengajarkan bahwa manusia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga sebagai bagian dari alam semesta yang lebih luas.
Dengan menjaga tradisi ini masyarakat Tengger menjaga identitas mereka sekaligus menunjukkan bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan hidup, tetapi simbol perjalanan spiritual dan penghormatan pada leluhur. Kearifan yang diwariskan ini menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu menjaga alam, menghargai pangan, dan tidak melupakan asal usul kehidupan.