
Di kawasan wisata air Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang terdapat dua sumber air yang dipercaya memiliki kekuatan berkah dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Suku Tengger. Kedua sumber air itu dikenal sebagai Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal. Dari dulu hingga sekarang, air dari sumber ini dimanfaatkan untuk kebutuhan dasar seperti minum, memasak, mandi, dan terutama sebagai penopang pengairan tanaman pangan. Dalam kehidupan agraris masyarakat Tengger, keberadaan sumber air ini menjadi penentu kesuburan tanah dan keberlangsungan hidup.
Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi masyarakat Tengger. Tempat ini tidak hanya dipandang sebagai sumber air biasa, tetapi juga sebagai ruang suci yang menjadi bagian penting dari upacara adat Grebeg Tirto Aji. Upacara ini merupakan ritual pengambilan air suci yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Tengger dari tujuh desa. Air yang diambil dari sumber ini dipercaya membawa berkah, membantu penyembuhan, menanggulangi hama, serta menyuburkan tanaman. Airnya dianggap sebagai pemberi kesejahteraan bagi tanah dan manusia.
Grebeg Tirto Aji berlangsung dalam suasana yang sangat sakral. Sejak pagi, ratusan masyarakat Tengger berkumpul dengan mengenakan pakaian adat hitam dan kain batik. Para pemangku adat memimpin prosesi, sementara warga membawa sesaji berupa hasil bumi dan makanan tradisional. Upacara dimulai dengan pemasangan selendang adat kepada tamu kehormatan, kemudian rombongan berjalan menuju tempat pengambilan air dengan langkah yang teratur. Setiap orang melaksanakan ritual dengan penuh ketenangan dan penghormatan, seolah mengingat bahwa hubungan manusia dengan air adalah hubungan yang harus dijaga dengan hati yang bersih.
Kepala Desa Ngadas, Mujianto, menjelaskan bahwa upacara adat ini memiliki makna mendalam. Selain sebagai bentuk permohonan berkah, Grebeg Tirto Aji adalah wujud rasa syukur masyarakat atas air yang selalu menghidupi tanah mereka. Ritual ini juga menjadi sarana untuk menjaga persaudaraan di antara pemeluk agama, menciptakan kedamaian, dan melestarikan adat Tengger yang telah dikenal hingga mancanegara. Keberadaan air suci dari Sumber Mbah Kabul dan Mbah Gimbal menjadi bagian dari rangkaian Upacara Yadnya Kasada, yaitu ritual puncak yang dilakukan pada tanggal 14 Kasada saat bulan purnama.
Bagi masyarakat Tengger, air adalah simbol kehidupan. Air yang mengalir dari sumber ini membawa keberkahan untuk ladang ladang mereka. Tanaman tumbuh subur, hama dapat diatasi, dan hasil panen menjadi melimpah. Air yang dipandang sebagai anugerah leluhur ini juga digunakan sebagai bagian dari penyembuhan tradisional. Banyak warga percaya bahwa air tersebut mampu membantu menyembuhkan penyakit, terutama ketika digunakan dengan niat baik dan hati yang tulus.
Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal menjadi bukti bahwa tradisi masyarakat Tengger tidak dapat dipisahkan dari alam. Mereka hidup selaras dengan lingkungan, memelihara sumber air, dan menghargai setiap tetes yang menghidupi kehidupan sehari hari. Air yang dianggap suci bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga kebutuhan pangan yang menopang kehidupan. Melalui tradisi seperti Grebeg Tirto Aji, masyarakat mengingatkan generasi berikutnya bahwa alam harus dijaga agar kehidupan tetap berkelanjutan.
Kisah tentang kedua sumber air ini mengajarkan bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan. Air yang jernih, tanah yang subur, dan tradisi yang terus hidup adalah warisan yang harus dirawat bersama. Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal tidak hanya menjadi bagian dari cerita rakyat, tetapi juga menjadi simbol kebijakan leluhur yang memahami bahwa keberkahan alam hanya datang kepada mereka yang mencintai dan merawatnya.