
Di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Polehan di Kabupaten Malang, pernah berdiri hutan lebat yang dipenuhi pohon pohon besar. Di antara pohon pohon itu, yang paling menonjol adalah pohon pule atau Alstonia scholaris. Pohon ini memiliki batang besar dan kuat dengan daun yang mengilap, rimbun, serta melebar ke samping. Sejak dahulu pohon pule telah dianggap sebagai tumbuhan berkhasiat. Kulit batangnya mengandung flavonoida, saponin, dan polifenol. Ramuan dari pohon ini digunakan untuk mengobati demam, menurunkan tekanan darah, hingga menjaga stamina. Dalam kehidupan masyarakat lama, pohon pule tidak hanya menjadi peneduh, tetapi juga sumber obat yang sangat penting.
Di tengah hutan pule tersebut tinggal seorang pertapa yang terkenal sakti. Ia dikenal bijaksana dan sering menolong siapa pun yang datang meminta bantuan. Pada suatu hari, seorang laki laki dari wilayah utara datang tergesa gesa menemui pertapa itu. Ia membawa kabar duka tentang anak laki lakinya yang bernama Hansyah. Anak itu sakit sakitan dan tidak kunjung sembuh meski telah dibawa ke berbagai tabib. Laki laki itu bercerita bahwa sebelum melakukan perjalanan, ia mendapat mimpi. Dalam mimpinya ia melihat petunjuk untuk berjalan ke arah selatan menuju wilayah yang berada di antara dua sungai. Salah satu sungai dalam mimpinya tampak panjang dan jernih. Keyakinan itu membuatnya melakukan perjalanan hingga akhirnya bertemu sang pertapa.
Pertapa itu mendengarkan cerita dengan penuh perhatian. Ia kemudian memutuskan untuk bersemedi dan mencari makna dari mimpi yang dibawa sang ayah. Dalam semedi itu, ia melihat gambaran sebuah pohon besar yang memancarkan cahaya terang. Cahaya itu begitu kuat hingga membangunkan sang pertapa dari semedinya. Ia sadar bahwa petunjuk itu penting dan segera bangkit untuk mencari pohon yang dimaksud dalam visinya.
Setelah berjalan dan meneliti tanaman sekitar, ia menemukan bahwa pohon yang memancarkan cahaya dalam semedinya adalah pohon pule, tumbuhan yang tumbuh subur di sekeliling tempat tinggalnya. Dengan penuh keyakinan, pertapa itu mengambil kulit batang, daun, dan bunga pohon pule. Semua bahan itu ia ramu melalui ritual yang diyakininya. Ramuan tersebut kemudian diberikan kepada ayah Hansyah agar bisa dibawa pulang secepatnya.
Sesampainya di rumah, sang ayah memberikan ramuan pule itu kepada putranya. Beberapa hari setelah mengonsumsi ramuan tersebut, Hansyah menunjukkan perubahan yang sangat luar biasa. Wajahnya kembali cerah, tubuhnya mulai bertenaga, dan kesehatannya pulih perlahan. Kegembiraan itu membuat sang ayah menangis bahagia. Ia bertanya dengan penuh kasih sayang, “Wis pule, Han?” yang berarti “Sudah sembuh, Han?”. Hansyah menjawab, “Han sampun pule, Bapak”, yang berarti “Han sudah sembuh, Bapak”, sambil memeluk ayahnya erat erat.
Sejak saat itu sang ayah selalu bercerita kepada setiap orang yang ditemuinya tentang kesembuhan putranya. Ia sering mengatakan, “Han pule, Han pule”, dan orang yang mendengar membalas, “Pule Han”. Ungkapan itu tersebar luas hingga sampai kembali ke telinga pertapa yang pernah menolongnya. Tersentuh oleh kesembuhan Hansyah, sang pertapa membalas dengan ucapan yang sama. Dari percakapan itulah muncul nama Polehan, yang kemudian digunakan untuk menyebut wilayah tersebut.
Seiring waktu, kabar tentang khasiat pohon pule menyebar ke berbagai daerah. Banyak orang datang untuk mencari ramuan obatnya atau menetap di wilayah itu. Hutan yang dahulu lebat perlahan berubah menjadi ladang, kebun, dan kawasan permukiman. Pohon pule banyak ditebang untuk dijadikan obat, bahan bangunan, atau peneduh rumah. Kini jumlahnya tidak sebanyak dulu dan sering dianggap tanaman berharga, hanya dimiliki masyarakat tertentu karena perawatannya yang khusus.
Kisah asal usul Desa Polehan mengajarkan bahwa alam selalu menyediakan apa yang manusia butuhkan. Pohon pule menjadi contoh nyata bagaimana tumbuhan dapat memberi kesehatan, harapan, dan kehidupan. Melalui cerita ini, kita diingatkan bahwa menjaga kelestarian alam berarti menjaga keseimbangan hidup. Pohon yang dulu menyembuhkan seorang anak kini menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Polehan. Dengan merawat alam, masyarakat mewariskan harapan bagi generasi selanjutnya agar kehidupan tetap sejahtera.