
Di sebuah desa yang tenang di Malang, hiduplah seorang ayah yang terbaring lemah karena penyakit yang tak kunjung sembuh. Dua putrinya, Kariati dan Abdiah, telah diutus untuk mencari air penyembuh dari seorang tukang air di Wendit yang dikenal sebagai orang suci. Namun hingga hari berganti, keduanya tidak pernah kembali. Hati sang ayah semakin gelisah, dan ketakutannya kian besar bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa kedua putrinya.
Dengan suara bergetar, ia memanggil putri bungsunya, Sukanti. Putri itu dikenal sebagai yang paling lembut dan paling cantik di antara tiga bersaudara. Meski sederhana, pembawaannya tenang dan tutur katanya selalu sopan. Sang ayah berkata dengan penuh harap bahwa Sukantilah satu satunya harapan yang tersisa. Ia meminta putri itu menemui si tukang air suci di Wendit, meski kecemasan akan keselamatan kedua kakaknya terus menghantuinya.
Tidak ada pakaian indah yang tersisa, sebab semua telah digunakan kedua kakaknya. Maka Sukanti berangkat dengan pakaian sederhana, hanya membawa sebatang bambu besar sebagai wadah air. Bambu ini adalah benda yang sangat dekat dengan kehidupan warga desa. Rebungnya sering dimasak sebagai sayuran, dan bambunya digunakan untuk berbagai perlengkapan hidup. Kini, bambu itu menjadi penopang harapan terakhir demi keselamatan ayahnya.
Perjalanan menuju Wendit panjang dan melelahkan. Namun setibanya di sana, Sukanti menyambut Si Bungkuk dengan penuh hormat. Dengan mata yang berkaca kaca, ia memohon air penyembuh untuk ayahnya. Tidak ada cemoohan, tidak ada ejekan, hanya ketulusan seorang anak yang sangat mencintai ayahnya. Melihat kebaikan hatinya, Si Bungkuk terpesona. Ia menawarkan air itu dengan satu syarat, yaitu Sukanti bersedia menjadi istrinya.
Berbeda dengan kedua kakaknya yang sombong dan angkuh, Sukanti menjawab dengan sepenuh hati. Ia berkata bahwa bila itu kehendak orang suci, ia akan menurutinya. Nada lembut dan ketulusannya membuat wajah Si Bungkuk berseri seri. Tanpa ragu, ia mengisi batang bambu besar itu dengan air suci. Ia bahkan memutuskan untuk mengantar Sukanti pulang sebagai bentuk tanggung jawab atas keselamatan gadis yang telah mempercayainya.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang diterangi sinar bulan. Perjalanan terasa ringan karena hati keduanya dipenuhi kehangatan. Sukanti merasakan ketenangan di dekat Si Bungkuk, sosok yang selama ini diremehkan orang, namun ternyata berhati lembut. Sementara itu, Si Bungkuk menemukan rasa bahagia yang belum pernah dirasakannya seumur hidup.
Ketika malam semakin larut, mereka tetap berjalan. Bulan menggantung tinggi, cahayanya memantul di permukaan batang bambu yang berisi air suci. Perjalanan itu menjadi awal dari sebuah ikatan yang lahir bukan dari paksaan, tetapi dari kejujuran dan hati yang tulus.
Cerita ini mengingatkan bahwa bambu, tanaman yang akarnya kuat dan rebungnya bermanfaat sebagai pangan, menjadi simbol keteguhan dan harapan. Sukanti menggunakan bambu bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai wadah kehidupan. Sama seperti bambu yang lentur namun kokoh, sikapnya menunjukkan bahwa kerendahan hati mampu membawa keselamatan, sementara kesombongan justru membawa bencana.
Kearifan lokal Jawa mengajarkan bahwa setiap tumbuhan yang tumbuh di tanah ini membawa makna. Rebung yang menjadi sumber pangan bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi lambang pertumbuhan dan kesederhanaan. Kisah Sukanti menegaskan bahwa kemuliaan tidak diukur dari rupa dan penampilan, tetapi dari hati yang bersih, budi yang halus, dan ketulusan dalam berbuat.