
Pada suatu malam di kaki pegunungan Malang, bulan purnama menggantung penuh di langit. Cahayanya yang keemasan memantul lembut pada tetes air yang jatuh dari sebuah air terjun tinggi. Di balik air terjun itu terdapat sebuah gua sunyi tempat seorang putri dari Madura bertapa. Putri itu telah bersemadi selama satu bulan penuh, ditemani hanya oleh gemuruh air yang jatuh dari ketinggian. Ketika cahaya bulan menembus tirai air, wajah sang putri tampak bersinar. Namun di balik keindahan malam itu, ia merasa kesepian.
Untuk mengusir rasa sepi, sang putri melihat ke arah desa yang terhampar di bawah sana. Ia menggunakan kesaktiannya untuk melihat keadaan desa dengan lebih jelas. Tatapannya berhenti pada seorang pemuda tampan yang sedang memandangi bulan dari jendela rumahnya. Wajah pemuda itu disinari cahaya bulan hingga tampak semakin elok. Putri itu merasa terpikat lalu menggunakan kekuatannya untuk memanggil sang pemuda ke air terjun.
Pemuda tersebut, tanpa sadar digerakkan oleh kekuatan gaib, berangkat menuju air terjun. Di tengah jalan ia bertemu seorang kakek tua yang memperingatkannya agar tidak mandi di sana pada malam purnama. Pemuda itu berjanji tidak akan mandi, tetapi tetap melanjutkan perjalanan untuk melihat air terjun yang disinari bulan. Kakek tua itu memandang punggungnya dengan hati yang gelisah.
Setibanya di air terjun, pemuda itu dibuat terkejut. Ia melihat sebuah istana megah di balik tirai air. Tiba tiba tirai air tersibak dan muncul seorang putri jelita. Putri itu mengundangnya masuk, dan seolah ditarik kekuatan yang tidak terlihat pemuda itu menaiki tangga ajaib yang terbuka di balik air. Malam itu ia memasuki istana sang putri dan tak pernah terlihat lagi oleh warga desanya.
Keesokan harinya seluruh penduduk desa mencari pemuda yang hilang itu. Ketika mereka tiba di air terjun, mereka mendengar suara gamelan dan suara pesta yang samar. Kakek tua yang semalam memberi peringatan pun berkata dengan sedih bahwa pemuda itu telah menjadi korban sang putri dari Madura yang kerap mencari pendamping dari dunia manusia. Penduduk desa pun berduka karena kehilangan salah satu warganya.
Sejak hari itu air terjun tersebut diberi nama Coban Baung. Airnya jatuh dari ketinggian sekitar 55 meter, jernih dan memesona terutama saat bulan purnama. Masyarakat percaya bahwa tempat itu menyimpan legenda tentang putri bertapa dan pemuda yang hilang. Kini Coban Baung menjadi objek wisata yang terkenal di kawasan Kebun Raya Purwodadi. Jika ingin menikmati keindahannya pengunjung diizinkan berada di bawah air terjun tetapi dilarang naik ke puncaknya karena batu batu di atas sangat licin dan berbahaya.
Meski dikenal sebagai tempat wisata Coban Baung mengajarkan pesan penting tentang alam dan kehati hatian. Air yang mengalir deras merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia sebagai sumber air minum dan kehidupan. Keindahan alam tidak boleh membuat kita lengah terhadap bahayanya. Cerita tentang pemuda yang hilang menjadi pengingat bahwa kata kata manis atau daya tarik yang memesona tidak selalu membawa kebaikan. Kita harus mampu membaca firasat dan menjaga diri.