
Di sebuah wilayah sejuk di Panggul, Trenggalek, terdapat sebuah dusun yang namanya lahir dari sebuah perjalanan panjang seorang wali. Dahulu kala, wilayah ini masih berupa kebun luas yang dipenuhi pepohonan tinggi. Daunnya rimbun dan embun pagi sering menggantung di ujung ranting, memberi kesan seolah kebun itu memiliki kehidupan sendiri. Jalan setapaknya masih berupa tanah lembut, sementara suara burung liar menjadi irama alami yang menemani siapa pun yang melintas.
Pada suatu hari, seorang wali yang sedang melakukan perjalanan panjang melewati daerah ini. Setelah berhari-hari berjalan tanpa henti, ia singgah atau mesanggrah sejenak di sebuah tempat di ujung timur desa Besuki. Setelah cukup beristirahat, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju arah barat. Langkahnya perlahan tetapi mantap, seperti orang yang tahu bahwa setiap jejak kaki membawa makna dan tujuan.
Dalam perjalanannya, sang wali tiba di sebuah kebun yang tampak sangat menenangkan. Di tengah kebun itu terdapat sebuah sumber air yang memancar jernih dari sela bebatuan. Airnya bening, dingin, dan menggugah rasa haus siapa pun yang melihatnya. Sang wali yang sedang letih pun merasa bahwa inilah tempat yang tepat untuk berhenti sejenak. Dalam bahasa Jawa, ia berkata bahwa di tempat ini ia “kudu leren” atau harus beristirahat.
Sambil duduk di dekat sumber air itu, sang wali meneguk air segar yang mengalir langsung dari mata air. Rasa lelahnya mereda. Air tersebut seakan memiliki kekuatan untuk memulihkan tubuh dan jiwa. Dalam ketenangan itu, sang wali pun merasakan kedalaman hubungan antara manusia dan alam. Ia memahami bahwa air tidak hanya untuk menghilangkan haus, tetapi juga menopang kehidupan, memberi kesuburan, dan menjadi perekat antara manusia dengan lingkungan mereka.
Warga yang kemudian mendengar kisah tersebut memberi nama dusun itu Kebonduren. Nama ini berasal dari gabungan kata kebon yang berarti kebun, dan kudu leren yang berarti harus beristirahat. Kebonduren menjadi tempat yang tidak hanya dikenal sebagai kebun tempat sang wali beristirahat, tetapi juga sebagai kawasan yang memiliki sumber air penting bagi masyarakat sekitar. Sampai sekarang air yang mengalir di sana masih menjadi tumpuan warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, minum, dan mengairi tanaman pangan mereka.
Bagi masyarakat Besuki, sumber air di Kebonduren merupakan anugerah yang tidak pernah berhenti mengalir. Air itu membantu mereka mengolah lahan, menumbuhkan padi, jagung, sayur, dan berbagai hasil bumi lain yang menjadi dasar makanan sehari-hari. Warga meyakini bahwa keberadaan sumber air ini adalah berkah yang harus dijaga, baik dengan merawat lingkungan sekitar maupun menghormati tradisi leluhur yang selalu mengutamakan keseimbangan antara manusia dan alam.
Kisah asal-usul Kebonduren mengajak kita memahami bahwa tempat sekecil apa pun bisa memiliki makna besar bagi kehidupan. Dari sebuah perjalanan seorang wali dan sebuah sumber air sederhana, lahirlah sebuah dusun yang kini dihuni banyak keluarga. Mereka hidup dengan memanfaatkan alam secara bijak sambil menjaga nilai-nilai yang ditinggalkan oleh leluhur. Cerita ini mengingatkan bahwa air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sumber kehidupan yang menghubungkan manusia dengan alam semesta. Melalui penghormatan pada sumber air, masyarakat Kebonduren menjaga harmoni yang menjadi kearifan lokal penting dalam kehidupan mereka.