
Pada masa ketika hutan di Trenggalek masih lebat dan penuh misteri, dua orang syeh melakukan perjalanan panjang menyusuri wilayah yang belum banyak dihuni manusia. Mereka berjalan melewati lembah, bukit, serta pepohonan yang menjulang. Di tengah perjalanan, mereka tiba di sebuah tempat sunyi yang tiba-tiba dipenuhi suara langkah cepat dari balik semak. Dari arah pepohonan, muncul segerombolan kijang yang dalam bahasa Jawa disebut talun. Hewan-hewan itu berlari mendekat seakan menyerang. Namun kedua syeh itu tetap tenang. Dengan doa dan keteguhan hati, mereka dapat mengusir para kijang itu tanpa kesulitan. Karena kejadian itu, daerah tersebut dinamakan Kampung Talun sebagai penanda tempat yang dulu dipenuhi kawanan kijang liar.
Perjalanan mereka berlanjut hingga tibalah mereka di suatu wilayah yang dihuni para janda muda. Para janda itu datang dengan raut wajah penuh kelelahan dan kesedihan. Mereka bercerita bahwa setiap kali padi yang mereka tanam mulai menguning dan hampir panen, suami mereka tiba-tiba meninggal. Kejadian itu terus berlangsung hingga membuat daerah tersebut seolah dipenuhi duka yang tidak berkesudahan. Mendengar kisah itu, salah seorang syeh berkata dalam bahasa Jawa, “Yen ngono nasibmu kuwi diarani Rondo Kuning.” Sejak itu daerah tersebut dinamakan Rondo Kuning. Para syeh juga memberi saran agar di wilayah itu masyarakat tidak menanam padi lagi demi menghindari musibah yang sama. Sejak saat itu, warga perlahan beralih pada tanaman lain serta sumber pangan yang lebih aman.
Setelah meninggalkan Rondo Kuning, kedua syeh melanjutkan perjalanan hingga hari mulai gelap. Karena tidak ingin melanjutkan perjalanan malam hari, mereka beristirahat di sebuah tempat hingga tertidur. Keesokan paginya, setelah bangun, mereka menamai wilayah itu Tanggung, mengacu pada keadaan mereka yang sedang bertanggung atau beristirahat karena kemalaman.
Perjalanan kembali dilanjutkan hingga mereka menemukan sebuah pohon Pule besar yang daunnya rimbun. Pohon itu memberikan keteduhan yang luar biasa, membuat kedua syeh merasa nyaman. Di dekat pohon itu terdapat sebuah rumah kecil yang tampak sederhana. Mereka merasa sangat senang menemukan tempat berteduh setelah perjalanan panjang. Pohon Pule itu pun akhirnya ditebang ketika masyarakat mulai membangun permukiman. Tempat itu kemudian dinamakan Mah Bakal atau Mbah Bakal, yang merujuk pada lokasi awal permukiman tersebut.
Seiring waktu, kampung yang mereka dirikan menjadi semakin ramai. Banyak orang datang untuk tinggal, dan lahan pun diperluas. Namun perluasan itu terkendala karena wilayah sekitar dipenuhi pohon Pule dalam jumlah besar. Akhirnya pohon-pohon itu ditebang, dan wilayah tersebut dinamakan Pule Rejo, yang berarti daerah yang dulunya penuh pohon Pule namun kini makmur dan ramai.
Perluasan wilayah terus berlanjut ke tempat lain yang penuh pohon gondang. Pohon-pohon gondang itu ditebang bersama-sama untuk membuka lahan baru, sehingga daerah itu dinamakan Gondang Rejo. Di wilayah ini, banyak penduduk gemar mengadu ayam jago. Bahkan banyak pendatang yang datang untuk ikut bertanding. Hal itu membuat wilayah tersebut ramai, tetapi lama kelamaan adu ayam menimbulkan pertikaian besar yang tidak hanya melukai ayam, tetapi juga menewaskan orang-orang yang mengadu. Suasana menjadi kacau dan tidak aman.
Melihat hal itu, kedua syeh kembali turun tangan. Mereka mencoba mengajarkan kebaikan dan menertibkan perilaku para penduduk. Meskipun banyak yang menolak ajaran mereka, kedua syeh tidak menyerah. Mereka berusaha menenangkan pertikaian dan menuntun para jagoan agar tidak saling melukai. Pada akhirnya, semua penduduk menyerah pada kebijakan kedua syeh. Mereka mengakui kesaktian dan kebaikan kedua tokoh itu. Karena wilayah itu menjadi tempat para jagoan bertarung dan akhirnya tunduk pada dua syeh, daerah tersebut dinamakan Sawungan, yang berasal dari kata sawungan atau sawung yang berarti ayam jago.
Seiring berjalannya waktu, semua wilayah yang dilewati kedua syeh itu berkembang menjadi satu kawasan besar yang kini dikenal sebagai Desa Jombok. Tanaman Pule yang dulu banyak tumbuh di wilayah itu kini dimanfaatkan buahnya sebagai bahan pangan, sementara kijang yang dulu berkeliaran dan sempat menyerang para syeh kini menjadi sumber pangan berupa daging yang memberi protein bagi masyarakat. Kedua unsur pangan ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekitar, melengkapi hasil bumi dan tanaman pangan yang ditanam setelah wilayah tersebut semakin subur.
Kisah ini mengingatkan bahwa perjalanan panjang dua orang syeh membuka jalan bagi terbentuknya kampung-kampung yang kemudian menyatu menjadi satu desa. Dari pohon Pule yang teduh hingga kawanan kijang yang dulu liar, seluruh unsur alam itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Melalui kisah ini kita memahami bahwa pangan hadir karena perpaduan antara alam yang menyediakan dan manusia yang menjaga. Keharmonisan antara manusia dan alam adalah kearifan lokal yang telah diwariskan sejak dulu. Dengan menghormati alam, kita menjaga keberlanjutan pangan dan kehidupan.