
Di antara aliran sungai yang membelah wilayah Trenggalek, terdapat sebuah sungai yang namanya melekat pada kehidupan masyarakat sekitar. Sungai itu bernama Sungai Pelus. Nama Pelus berasal dari salah satu spesies khas yang hidup di hulunya, yaitu pelus atau sidat kembang, sejenis ikan air tawar yang bentuknya menyerupai belut, namun lebih besar dan memiliki cita rasa yang sangat digemari warga. Kehadiran pelus tidak hanya memberikan ciri khusus bagi sungai tersebut, tetapi juga menjadi sumber pangan berharga sebagai lauk berprotein tinggi.
Aliran Sungai Pelus mengalir dengan tenang melewati permukiman Sumurup di RT 15, lalu melintasi wilayah Tanggung di RT 16, sebelum masuk ke daerah Duren yang juga berada di RT 15. Sungai ini seolah menjadi jalur kehidupan yang menghubungkan setiap dusun yang dilewatinya. Suara gemericik airnya menyatu dengan aktivitas harian masyarakat yang memanfaatkan aliran sungai untuk mencuci, berkebun, serta mencari ikan sebagai sumber makanan tambahan bagi keluarga.
Ketika memasuki wilayah Duren, Sungai Pelus bertemu dengan tiga aliran sungai lain, yaitu Sungai Plancuran, Sungai Watu Plethes, dan Sungai Banaran. Pertemuan itu membentuk aliran yang lebih besar, menambah volume air yang kemudian mengalir ke hilir. Pertemuan sungai-sungai ini tidak hanya menciptakan pemandangan alam yang indah, tetapi juga menjadi kawasan yang kaya akan kehidupan air. Pelus yang berasal dari hulu akan berenang mengikuti arus sampai ke bagian sungai yang lebih lebar, sehingga masyarakat dapat dengan mudah menangkapnya.
Bagi warga, pelus bukan sekadar ikan biasa. Jenis ikan ini memiliki nilai yang penting sebagai sumber protein lokal yang mudah diperoleh tanpa harus membeli ke pasar. Dagingnya yang gurih menjadi lauk favorit, terutama ketika dimasak dengan bumbu pedas atau dipanggang di atas bara api. Pelus telah menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat sekitar sungai. Dalam setiap keluarga, ada cerita tentang bagaimana orang tua dan anak-anak turun ke sungai untuk mencari pelus sebagai kegiatan bersama yang mempererat hubungan mereka.
Namun, keberadaan pelus juga bergantung pada kondisi sungai yang tetap bersih dan terjaga. Ketika Sungai Pelus tetap mengalir jernih, kehidupan ikan di dalamnya pun berkembang dengan baik. Sebaliknya, jika sungai tercemar, pelus menjadi sulit ditemukan. Karena itulah masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai menjaga kebersihan sungai dengan penuh kesadaran. Mereka memahami bahwa sungai adalah sumber kehidupan yang harus dihormati.
Kisah Sungai Pelus mengajarkan bahwa hubungan antara manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Hasil pangan yang diperoleh dari sungai merupakan anugerah yang datang dari keseimbangan alam yang terjaga. Dari pelus yang hidup di air dingin pegunungan hingga aliran sungai yang menyatukan berbagai desa, semuanya menunjukkan bahwa kehidupan bisa berjalan harmonis selama manusia menjaga alam dengan bijak. Sungai Pelus menjadi pengingat bagi kita bahwa sumber pangan lokal tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kedekatan manusia dengan alam yang menyediakan kehidupan.