
Di sebuah kawasan perbukitan di Trenggalek, terdapat sebuah sungai yang alirannya tampak berbeda dari sungai-sungai lain di sekitarnya. Sungai itu dikenal sebagai Sungai Kuning, dinamai demikian karena dasar dan tepian alirannya dipenuhi bebatuan bobos berwarna kuning yang berkilau ketika terpapar cahaya matahari. Warnanya yang khas membuat sungai ini terlihat seolah mengalirkan cahaya emas di antara pepohonan hutan.
Hulu Sungai Kuning berada di bukit yang disebut Kali Kuning. Di sana, tanahnya merupakan tanah litosol yang terbentuk dari pelapukan batuan beku dan sedimen. Tanah ini berbutir kasar, bercampur kerikil dan tanah liat kuning, serta tidak cocok untuk bercocok tanam. Karena itu, kawasan ini tidak menjadi ladang atau sawah, tetapi dibiarkan sebagai hutan lindung yang didominasi pohon-pohon besar yang akarnya mampu mencengkeram tanah keras itu. Keberadaan pohon-pohon besar inilah yang membantu menjaga kestabilan aliran Sungai Kuning, memastikan mata air tetap mengalir sepanjang tahun.
Sungai Kuning mengalir di sebelah barat RT 13, menjadi batas alami antara permukiman dan kawasan hutan Perhutani di Dusun Kajar. Tidak seperti sungai lain yang sering menjadi pusat aktivitas warga, aliran sungai ini tidak melewati permukiman. Ia tetap tersembunyi di tengah lebatnya pepohonan, hanya didengar melalui gemerisik airnya yang jatuh dari bebatuan kuning. Bagi masyarakat setempat, Sungai Kuning merupakan bagian penting dari ekosistem hutan yang menjaga keseimbangan alam di sekitar mereka.
Walau tidak menjadi sumber air langsung bagi warga, Sungai Kuning tetap memiliki fungsi penting. Alirannya berkontribusi menjaga kelembapan hutan dan menjadi sumber irigasi alami yang menghidupi berbagai jenis tanaman hutan. Pohon-pohon besar seperti bendo, aren, kelapa hutan, hingga berbagai jenis flora alami tumbuh subur karena keberadaan air ini. Dengan demikian, Sungai Kuning menyediakan manfaat tidak langsung bagi masyarakat melalui hasil hutan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, obat, atau penopang ekonomi.
Setelah mengalir melewati kawasan hutan, Sungai Kuning kemudian menyatu dengan Sungai Gede dan Sungai Gondang, menciptakan aliran yang lebih besar dan kuat. Perjumpaan tiga sungai ini menjadi simbol keseimbangan alam di kawasan Trenggalek selatan, menghubungkan berbagai wilayah hutan dengan aliran air yang sama. Meski tersembunyi, Sungai Kuning tetap menjadi bagian penting dalam jaringan ekologis yang menopang kehidupan penduduk di bawahnya.
Kisah Sungai Kuning mengingatkan kita bahwa tidak semua sumber daya alam hadir secara langsung dalam kehidupan manusia. Ada sumber air yang keberadaannya tersembunyi, namun tetap memegang peran penting dalam menjaga ekosistem. Seperti halnya Sungai Kuning, sebuah sungai yang mungkin jarang terlihat, namun menghidupi kehidupan hutan dan menjaga keseimbangan air di kawasan sekitarnya.
Dalam aliran airnya tersimpan pesan kearifan lokal tentang hubungan manusia dengan alam. Sungai Kuning mengajarkan bahwa menjaga hutan berarti menjaga sumber air, dan menjaga sumber air berarti menjaga kehidupan. Selama masyarakat menghormati alam dan merawatnya dengan bijaksana, maka air akan terus mengalir, pohon akan terus tumbuh, dan kehidupan akan tetap berjalan harmonis. Itulah pelajaran berharga dari sungai yang sederhana namun penuh makna ini.