Sungai Banaran

URL Cerital Digital: https://nggalek.co/2022/07/19/kondisi-sungai-tawing-dulu-memprihatinkan-sekarang-telah-menunjukkan-tren-positif/

Di sebuah lembah yang dahulu dipenuhi rimbunnya pepohonan apak dan semak pegunungan, mengalirlah sebuah sungai yang menjadi nadi kehidupan bagi masyarakat desa. Sungai itu dikenal sebagai Sungai Banaran. Nama Banaran berasal dari kata banar yang berarti cerah atau terang, sebab sungai ini terletak di wilayah yang sinar mataharinya mudah menyentuh permukaan air, membuat alirannya tampak berkilauan seperti kaca bening.

Pada masa sebelum tahun 1980, di permukiman Banaran di RT 13, terdapat sebuah punden keramat yang begitu dihormati oleh masyarakat setempat. Punden itu berada di bawah sebuah pohon apak besar yang batangnya menjulang dan daunnya melebar seperti payung hijau raksasa. Di bawah keteduhan pohon itu memancar sumber mata air yang sangat jernih. Airnya mengalir membentuk aliran awal Sungai Banaran. Tempat itu dipercaya dihuni oleh danyangan, roh halus yang diyakini menjaga keseimbangan alam sekitar. Karena itulah, punden ini sering menjadi lokasi ritual sesaji yang dipimpin oleh seorang Juru Kunci bernama Somedjo.

Tidak hanya terkenal karena sisi spiritualnya, Sungai Banaran juga menjadi tempat berkembang biaknya ikan sidat atau pelus berukuran besar. Ikan ini merupakan pangan lokal khas yang kaya protein, dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lauk untuk kebutuhan sehari-hari. Sidat yang hidup di sungai ini dikenal lincah dan kuat, berenang melawan arus sambil mencari celah-celah batu untuk bersembunyi. Keberadaannya menjadi tanda bahwa air sungai tetap bersih dan tidak tercemar.

Ketika malam tiba, suasana di sekitar punden sering dipenuhi kesunyian yang bercampur dengan suara gemericik air. Penduduk yang melewati tempat itu pada masa dahulu kerap merasakan hawa magis yang membuat mereka menundukkan kepala dengan hormat. Mereka percaya bahwa menjaga punden dan sungai berarti menjaga keberlangsungan hidup mereka sendiri. Sebab air jernih dari Sungai Banaran mengaliri sawah, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menyediakan sumber protein penting melalui ikan sidat yang tumbuh di dalamnya.

Aliran Sungai Banaran kini bertemu dengan sungai lain di wilayah Ketro dan menjadi bagian dari jaringan aliran air yang menyatukan berbagai dusun. Meski pembangunan perlahan mengubah wajah desa, masyarakat tidak pernah melupakan peran sungai ini dalam sejarah mereka. Sungai Banaran bukan hanya bagian dari alam, tetapi juga bagian dari ingatan kolektif dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Dari kisah ini kita belajar bahwa sungai bukan hanya sumber air, tetapi juga sumber kehidupan yang menyediakan pangan, menghidupi sawah, dan membentuk kebiasaan masyarakat. Sungai Banaran mengingatkan bahwa memelihara alam berarti memelihara diri sendiri. Ketika air tetap bersih dan makhluk di dalamnya tetap hidup, maka kesejahteraan masyarakat pun akan terjaga. Dalam bening alirannya, tersimpan pesan bahwa keharmonisan manusia dan alam harus terus dijaga agar kehidupan dapat berjalan dengan terang, seterang arti nama Banaran itu sendiri.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.