
Di sebuah lembah tenang di wilayah Trenggalek, sejarah lama masih berbisik melalui aliran mata air yang jernih. Penduduk setempat mengenal tempat ini sebagai Petirtahan Candi Brongkah, sebuah situs air kuno yang diyakini telah menjadi pusat kehidupan sejak masa awal perkembangan pemukiman di Jawa Timur. Di tempat ini, air tidak hanya bermakna sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai penopang pangan dan simbol kesuburan yang menghidupi banyak generasi.
Konon, jauh sebelum wilayah Trenggalek ramai dihuni, para leluhur telah memikirkan dengan saksama tempat yang layak dijadikan permukiman. Dalam berbagai ajaran kuno seperti yang tertulis dalam kitab Silpaprakasa, lokasi pemukiman ideal harus memiliki ciri tertentu, terutama keberadaan air yang mengalir. Lahan tanpa sungai dianggap tidak layak, begitu pula dengan tanah berkerikil, rawa, atau tempat pembakaran jenazah. Karena itu, ketika para pendahulu menemukan mata air jernih di Brongkah, mereka menyadari bahwa tempat itu adalah anugerah.
Dari sinilah kisah panjang dimulai. Pada masa Airlangga, wilayah Trenggalek telah menjadi ruang hidup bagi berbagai permukiman berbasis pertanian. Air dari Petirtahan Candi Brongkah mengalir deras, memberi kehidupan pada sawah-sawah tani yang tersebar di berbagai penjuru. Prasasti Baru, salah satu peninggalan penting era Airlangga, merekam jejak permukiman kuno di wilayah ini. Dalam prasasti itu tercantum nama desa-desa lama, para rama atau sesepuh desa, serta kelompok warga tani yang menggantungkan hidup pada air yang mengalir dari sumber-sumber suci.
Air dari Brongkah digunakan untuk mengairi sawah, menumbuhkan padi, sayuran, dan aneka tanaman pangan lain yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Petani menyalurkan air ini ke petak sawah yang membutuhkan pasokan, sehingga wilayah timur Trenggalek berkembang menjadi daerah pertanian yang subur. Di sepanjang aliran itu, berdirilah permukiman-permukiman baru yang tumbuh dari titik-titik mata air, seolah air adalah benih yang menumbuhkan sebuah desa.
Kemungkinan keberadaan Petirtahan Candi Brongkah juga berkaitan dengan Prasasti Kamulan dari era Kediri. Pada masa itu, pemukiman di Trenggalek semakin berkembang dan terorganisasi, dibuktikan dengan munculnya empat pemimpin Katandan yang disebut dalam prasasti. Hal ini menandakan bahwa air telah membentuk struktur sosial, ekonomi, dan politik di wilayah tersebut. Pusat-pusat air seperti Brongkah menjadi penanda keberlanjutan peradaban, tempat orang-orang berkumpul, membersihkan diri, memulai kehidupan, sekaligus memanen hasil bumi.
Petirtahan Candi Brongkah kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang masyarakat Trenggalek. Airnya masih mengalir dari perut bumi seperti dulu, tetap jernih dan tetap menjadi nadi kehidupan. Masyarakat di sekitarnya masih memanfaatkan sumber air ini, baik untuk keperluan sehari-hari maupun sebagai pengairan lahan pertanian yang memberi mereka pangan.
Dalam kisah ini, air bukan hanya unsur alam, tetapi juga penjaga keseimbangan antara manusia dengan lingkungan. Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan tumbuh subur ketika manusia memahami alamnya, merawatnya, dan menghargainya. Petirtahan Candi Brongkah menjadi contoh bagaimana sumber air dapat membentuk sejarah, menumbuhkan masyarakat, serta menjaga kesinambungan pangan selama berabad-abad.
Dari cerita ini, kita memetik pesan bahwa kearifan lokal terkait alam bukan sekadar tradisi, melainkan panduan hidup. Selama manusia menjaga air, tanah, dan hutan, mereka menjaga pula masa depan pangan dan kehidupan generasi berikutnya. Di Brongkah, pesan itu masih mengalir bersama setiap gemericik mata air yang menyejukkan.