Desa Cengkok

URL Cerital Digital: https://udinka.blogspot.com/2013/06/asal-usul-desa-cengkok-republik-rakyak.html

Di antara hamparan ladang dan hutan kecil di Jawa Timur, terdapat sebuah desa yang namanya sudah akrab di telinga banyak orang. Desa itu bernama Cengkok. Nama yang unik ini tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari sebuah kisah lama yang diwariskan turun temurun, kisah tentang pohon beringin, rawa yang berubah menjadi daratan, serta perjumpaan antara seorang Waliyulah dan penjaga alam yang tak terlihat.

Kisah ini bermula pada masa ketika hutan di wilayah itu masih lebat dan belum dijamah banyak manusia. Suatu hari, Sunan Bonang sedang menempuh perjalanan panjang melewati kawasan hutan tersebut. Perjalanan itu membuat beliau merasa letih, namun bukan kelelahan yang paling mengganggu, melainkan kegelisahan batin karena beliau belum bersuci. Di tengah sunyi hutan, beliau merasa perlu berwudlu agar hati kembali tenang. Akan tetapi, sejauh mata memandang, tidak tampak sumber air yang layak.

Berjalan perlahan, akhirnya Sunan Bonang menemukan sebuah rawa kecil. Di tengah rawa itu berdiri pohon yang menyerupai beringin, akarnya menjulur seperti tangan yang menjaga air yang menggenang di bawahnya. Meskipun ada air, Sunan Bonang merasa jumlahnya tidak cukup dan kebersihannya masih diragukan. Beliau pun berniat memohon izin kepada Sang Pencipta agar diberikan kemudahan membuat sebuah telaga. Dengan menyebut nama Allah, beliau memohon agar air yang jernih dapat mengalir di tempat itu.

Keajaiban pun terjadi. Tanah di sekitar rawa itu bergetar. Pohon beringin yang berdiri di tengahnya terangkat bersama tanah tempat ia berpijak, melayang seakan ditopang oleh kekuatan yang tak terlihat. Air mengalir mengikuti gerakan tanah itu tetapi tidak menenggelamkan pohonnya. Alam seperti menunjukkan kebesarannya pada hari itu.

Namun niat menciptakan telaga tidak berlangsung mulus. Penunggu wilayah itu, yang dikenal sebagai Nyai Plenceng, merasa terganggu. Ia khawatir perubahan besar itu akan menghilangkan tempat tinggalnya dan mengacaukan keseimbangan alam. Maka terjadilah perselisihan antara Sunan Bonang dan Nyai Plenceng. Pertarungan mereka menggetarkan hutan dan membuat para penjaga gaib lainnya ketakutan. Pada akhirnya, Nyai Plenceng kalah ketika serban Sunan Bonang mengebas kuat ke arah tanah.

Tidak terima, Nyai Plenceng berlari mengambil sebuah tompo berisi tanah. Tanah itu lalu dilemparkan ke arah telaga yang hendak terbentuk. Dalam sekejap, air yang hampir menjadi bengawan itu lenyap. Rawa kembali berubah menjadi daratan. Usaha Sunan Bonang untuk membentuk telaga pun gagal.

Namun perubahan itu justru membuat para penunggu pohon beringin gelisah. Mereka kehilangan tempat semula, karena rawa yang menjadi rumah mereka berubah drastis. Para makhluk halus itu lalu mengadakan musyawarah. Mereka memutuskan untuk menemui Sunan Bonang dan Nyai Plenceng guna mencari solusi yang membawa ketentraman bagi semua.

Dalam dialog yang penuh hormat, keduanya sepakat bahwa Sunan Bonang diperkenankan mencangkok pohon beringin yang terangkat itu. Pohon itu kelak menjadi simbol keseimbangan, pelindung desa, dan penanda keberadaan masyarakat baru yang akan tumbuh di sekitar hutan tersebut. Dari praktik mencangkok yang disetujui kedua belah pihak itulah cerita tentang “Cengkok” bermula. Konon, setiap orang yang mencoba mengganti beringin tua tersebut tidak pernah berhasil menumbuhkan penggantinya. Pohon asli itu seakan menjadi penjaga tetap, tidak dapat digeser oleh tangan manusia.

Sebagai jenis pangan, pohon beringin sering dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan. Bagian tertentu dari beringin dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional, terutama untuk menyembuhkan luka atau gangguan kesehatan ringan. Masyarakat desa yang hidup berdampingan dengan pohon itu menjadikannya bukan hanya sebagai bagian dari mitologi, tetapi juga sebagai penopang kehidupan sehari hari. Pohon ini dianggap sebagai lambang bahwa alam selalu menyediakan yang dibutuhkan manusia apabila dijaga dengan baik.

Kisah asal usul Desa Cengkok kemudian diwariskan sebagai pengingat bahwa kehidupan manusia tidak terpisahkan dari alam. Air, tanah, dan pohon memiliki kedudukan penting. Peristiwa gagal lahirnya telaga bukanlah akhir, melainkan awal dari pemahaman bahwa keharmonisan hanya tercipta jika manusia dan penjaga alam saling menghormati. Beringin yang tidak dapat digantikan itu adalah simbol kearifan lokal yang menegaskan bahwa hubungan antara manusia dan alam harus dijaga agar tetap seimbang dan membawa manfaat bagi generasi berikutnya.

Dari cerita ini, pembaca dapat memetik pesan bahwa kekuatan alam bukan sekadar latar dalam kehidupan, tetapi sahabat sekaligus pengingat untuk selalu memelihara keselarasan. Desa Cengkok tumbuh dari kisah itu, berdiri sebagai saksi bisu bahwa setiap pohon, tanah, dan air memiliki sejarahnya sendiri dan selalu menyimpan pelajaran bagi siapa saja yang mau mendengarkan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.