Di sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Kelurahan Werungotok, terdapat kisah lama yang terjalin erat dengan alam yang pernah tumbuh subur di tanahnya. Kisah ini lahir dari cerita para sesepuh yang mengisahkan masa ketika wilayah itu masih berupa hutan lebat dan belum disentuh oleh pemukiman. Mereka yang pertama kali membabat alas menemukan dua jenis pohon yang tumbuh sangat banyak, yaitu pohon weru dan pohon otok. Kedua pohon inilah yang kemudian menginspirasi penamaan desa tersebut.
Menurut penuturan Lurah Werungotok, Yudi Santoso, siapa yang pertama kali membuka alas memang tidak diketahui. Namun para sesepuh sepakat bahwa pada masa itu pohon weru dan otok berdiri besar dan gagah. Batang pohon weru menjulang tinggi, sedangkan pohon otok dikenal memiliki ranting yang sangat ulet dan keras. Rantingnya tidak mudah patah meskipun terkena angin atau terpukul benda keras. Ketangguhan inilah yang membuat pohon otok dihargai oleh masyarakat lama, bukan hanya sebagai bagian dari alam tetapi juga sebagai simbol kekuatan dan ketahanan.
Dalam tradisi masyarakat terdahulu, beberapa bagian dari pohon weru dan otok sering dimanfaatkan sebagai obat. Daun tertentu dapat direbus menjadi ramuan untuk meredakan rasa sakit atau menurunkan demam, sementara kulit batangnya digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan ringan. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat, yang sejak dulu menjadikan alam sebagai mitra dalam menjaga kesehatan dan ketentraman hidup.
Karena begitu banyaknya pohon weru dan otok yang tumbuh saat pembabatan alas, masyarakat akhirnya menamai daerah itu dengan sebutan Weruotok. Nama yang menggabungkan dua jenis pohon itu menjadi penanda bahwa wilayah tersebut dibangun bersama keberkahan alam. Namun, seiring perubahan zaman dan perkembangan pemukiman, pohon pohon besar itu perlahan mulai menghilang. Akar pohon weru dan otok yang besar dianggap berpotensi merusak bangunan warga. Untuk mencegah kerusakan, masyarakat memilih menebang pohon pohon itu. Kini, hanya sedikit rumah yang masih memiliki pohon weru atau otok di pekarangannya.
Salah satu warga yang masih menjaga keberadaan pohon otok adalah Pudjianto, seorang sesepuh berusia tujuh puluh tahun. Ia menunjukkan bahwa pohon otok yang tumbuh di pekarangan rumahnya masih hidup dan bertahan hingga hari ini. Menurutnya, kayu pohon otok memang terkenal sangat keras dan tidak mudah dipotong. Bahkan rantingnya pun membutuhkan tenaga besar untuk ditebang. Ketangguhan pohon ini menjadi saksi bisu tentang masa ketika alam dan manusia hidup berdampingan dengan penuh keseimbangan.
Kini Werungotok menjadi kelurahan yang ramai dengan rumah dan kegiatan masyarakat, namun jejak masa lalunya masih tersimpan dalam cerita yang disampaikan oleh para sesepuh. Pohon weru dan otok mungkin tidak lagi tumbuh dengan leluasa seperti dahulu, tetapi nilai nilai yang dibawanya masih bertahan. Pohon yang kuat menjadi lambang tentang perjuangan para pendahulu dalam membuka lahan dan membangun kehidupan baru. Sementara manfaat pengobatan dari pohon tersebut menjadi pengingat bahwa alam selalu menyediakan kebutuhan dasar manusia.
Kisah Desa Weruotok menyampaikan pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan lingkungan. Keberadaan pohon weru dan otok mengajarkan bahwa alam memiliki peran besar dalam sejarah suatu tempat. Ketika manusia menjaga alam, alam pun memberikan perlindungan dan manfaat yang tidak ternilai. Penebangan pohon karena kebutuhan pemukiman menunjukkan perubahan zaman, namun sekaligus mengajak kita merenungkan pentingnya menjaga keseimbangan agar tidak kehilangan bagian penting dari identitas diri.
Melalui kisah ini, pembaca diingatkan bahwa kearifan lokal lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam memaknai alam. Pohon pohon yang pernah tumbuh besar itu mungkin sudah jarang ditemukan, tetapi nilai yang dikandungnya tetap dapat diwariskan. Desa Weruotok adalah bukti bahwa nama tempat tidak hanya sekadar penanda geografis, tetapi juga cermin dari hubungan manusia dengan alam yang seharusnya terus dijaga dan dihargai.