Desa Jaan

URL Cerital Digital: https://gondang.nganjukkab.go.id/desa/jaan/profil/50

Di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jaan di Kabupaten Nganjuk, terdapat kisah lama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah ini berawal dari perjalanan empat prajurit Mataram bersaudara yang dikenal dengan nama Bau Tani, Bau Tono, Bau Drio, dan Bau Tika. Mereka adalah para penjaga kerajaan yang sering melakukan perjalanan jauh melewati hutan, sawah, dan sungai untuk memastikan keamanan wilayah. Dalam sebuah perjalanan panjang, mereka tiba di sebuah daerah yang kelak menjadi tempat lahirnya tiga dusun sekaligus, salah satunya Desa Jaan.

Ketika matahari sedang tinggi, keempat prajurit itu tiba di sebuah hamparan sawah luas. Di tengah sawah itu berdiri tegak sebuah pohon jati yang tampak berbeda dengan pohon lainnya. Batangnya besar, daunnya rimbun, dan akarnya seperti memeluk tanah sekitarnya dengan kuat. Mereka merasa perlu beristirahat sejenak di bawah pohon itu. Saat beristirahat, mereka menggali tanah untuk mencari sumber air dan menemukan air yang jernih. Dari sinilah sebuah sumur besar dibuat. Sumur itu kemudian dinamai Sumur Gede atau Sumur Agung. Hingga kini masyarakat setempat memandang sumur itu sebagai tempat yang keramat, karena diyakini menjadi saksi perjalanan para prajurit yang membawa berkah bagi daerah tersebut. Dusun tempat sumur itu berada kemudian diberi nama Jatitengah.

Setelah beristirahat, keempat bersaudara kembali melanjutkan perjalanan ke arah timur. Di tengah perjalanan, mereka mulai berjalan dengan langkah yang tidak stabil. Tubuh mereka terasa lelah, dan langkah kaki terasa sempoyongan. Karena kondisi aneh itulah wilayah yang mereka lalui kemudian dikenal dengan nama Dusun Sempayang. Nama itu diambil dari keadaan para prajurit yang berjalan dengan goyah namun tetap melanjutkan perjalanan mereka.

Tidak berhenti sampai di situ, perjalanan mereka membawa mereka semakin jauh ke arah timur. Di sana mereka menemukan pohon yang menjadi asal muasal nama Desa Jaan. Pohon itu dikenal masyarakat sebagai pohon ndayaan. Bentuknya unik, dengan batang kokoh dan dedaunan yang tampak seperti bergerak lembut mengikuti arah angin. Pohon ini tidak hanya menjadi penanda alam, tetapi juga dipercaya memiliki kegunaan sebagai tanaman obat. Beberapa bagian pohon ndayaan, terutama daun dan kulit batangnya, digunakan sebagai ramuan untuk mengobati keluhan ringan seperti sakit perut atau demam. Kearifan lokal masyarakat setempat menjadikan pohon ini sebagai bagian penting dari tradisi pengobatan mereka.

Karena keberadaan pohon ndayaan yang besar dan menonjol, masyarakat pun menamai daerah itu dengan sebutan Jaan. Hingga saat ini, pohon ndayaan yang menjadi asal nama desa masih berdiri tegak di halaman kantor Desa Jaan. Pohon itu telah menjadi titik penting bagi warga, tidak hanya sebagai penanda sejarah tetapi juga sebagai simbol keberlanjutan, sebab hingga sekarang beberapa bagian pohon tersebut masih digunakan sebagai obat tradisional oleh sebagian masyarakat.

Kisah perjalanan empat prajurit Mataram ini mengajarkan bahwa alam sering kali menjadi penuntun manusia dalam memberi nama tempat dan menemukan identitas sebuah wilayah. Pohon ndayaan bukan hanya tanaman biasa, tetapi representasi hubungan antara manusia dan alam yang saling melengkapi. Ia menyediakan tempat berteduh, menjadi penanda perjalanan, dan memberi manfaat bagi kesehatan masyarakat. Keberadaannya memperlihatkan bahwa alam selalu hadir sebagai sumber kehidupan jika dijaga dengan baik.

Melalui cerita ini, pembaca dapat memahami bahwa kearifan lokal lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam membaca tanda tanda alam. Desa Jaan menjadi contoh bahwa sebuah nama tidak hanya sekadar sebutan, tetapi juga cermin dari sejarah, nilai budaya, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Dari pohon ndayaan yang masih berdiri kokoh, kita diajak untuk mengenang perjalanan para pendahulu dan menjaga warisan alam sebagai bagian penting dari kehidupan bersama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.