Di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, terdapat sebuah desa yang namanya terdengar lembut namun menyimpan sejarah panjang yang bersinggungan dengan peradaban tua dan ajaran Islam. Desa itu bernama Mlorah. Masyarakat setempat percaya bahwa kisah desa ini tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sumber air yang menjadi penopang kehidupan sejak zaman kuno. Air yang mengalir di Mlorah bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari cerita yang membentuk identitas desa dan masyarakatnya.
Sejarah Desa Mlorah sering dibahas melalui dua sudut pandang. Pendekatan pertama merujuk pada masa Mataram Kuno yang dipengaruhi budaya Hindu Budha. Pendekatan ini didasarkan pada temuan sebuah lingga di salah satu punden desa, tepatnya di selatan Balai Desa Mlorah. Lingga tersebut berada di punden yang dikenal sebagai Punden Mbah Jantho. Lokasinya berada di timur jalan besar Nganjuk menuju Bojonegoro. Punden ini sudah lama dianggap suci oleh masyarakat setempat. Golden History Entertainment bahkan memasukkannya sebagai salah satu dari empat puluh delapan makam keramat yang sering diziarahi di Jawa Timur, sejajar dengan makam tokoh tokoh besar seperti KH M Hasyim Asy’ari, Gus Miek, Bathara Katong, hingga Bung Karno.
Bagi masyarakat Mlorah, keberadaan lingga itu bukan hanya bukti sejarah masa lalu, tetapi juga penanda bahwa desa mereka telah lama menjadi tempat berdiamnya para pendahulu yang menjunjung nilai kesucian. Lingga tersebut diperkirakan berasal dari masa ketika desa ini masih menjadi bagian dari wilayah spiritual kerajaan Mataram Kuno, sebuah masa ketika air, tanah, dan ritual keagamaan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Namun tidak hanya pendekatan Hindu Budha yang mengisi catatan perjalanan desa. Pendekatan Islam juga menguat dalam penelusuran sejarah Mlorah. Dalam narasi ini, desa Mlorah dikenal sebagai tempat yang pernah disinggahi para ulama dan tokoh agama di masa penyebaran Islam. Mereka memanfaatkan keberadaan sumber air di desa itu untuk kebutuhan sehari hari, mulai dari minum, masak, hingga berwudhu. Sumber air yang melimpah menjadikan desa ini pusat yang nyaman untuk menetap, berdakwah, dan mengajarkan nilai nilai kebaikan.
Apa pun pendekatan yang digunakan, satu hal yang pasti. Mlorah tumbuh dari kekuatan air. Hingga kini, sumber air di desa ini dimanfaatkan sebagai penopang pangan dan kebutuhan rumah tangga. Air yang mengalir di sawah sawah Mlorah menjadi sumber irigasi yang memberikan kehidupan bagi padi dan tanaman pangan lainnya. Masyarakat percaya bahwa kesuburan tanah mereka adalah anugerah dari sumber air yang tidak pernah benar benar kering. Air menjadi bagian dari tradisi, budaya, dan sejarah desa.
Masyarakat Mlorah juga memanfaatkan air untuk kebutuhan harian. Setiap rumah tangga memiliki cerita tentang bagaimana mereka menggunakan air dari sumber desa untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Dalam kehidupan masyarakat agraris, air adalah harta yang tidak ternilai. Selain untuk bercocok tanam, air menjadi media untuk bersih diri, mengolah makanan, dan menjaga kesehatan anggota keluarga.
Sumber air di Desa Mlorah juga memiliki nilai spiritual. Banyak warga yang datang ke punden Mbah Jantho untuk berdoa dan memohon keberkahan, termasuk memohon kelancaran air bagi sawah dan ladang mereka. Keyakinan bahwa air adalah bagian dari berkah Tuhan masih terus mengalir dalam benak setiap generasi. Air tidak hanya dilihat sebagai kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai media penyatu kehidupan sosial masyarakat desa. Ia membawa kesejukan, ketentraman, dan rasa syukur yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Kisah Desa Mlorah mengingatkan kita bahwa alam sering kali menjadi saksi bisu perjalanan sebuah masyarakat. Sumber air yang terus mengalir sejak zaman Mataram Kuno hingga masa Islam adalah bukti bahwa kehidupan manusia selalu bergantung pada alam dan harus selaras dengannya. Masyarakat Mlorah menjaga sumber air mereka dengan penuh kesadaran, karena mereka memahami bahwa air adalah bagian dari identitas desa yang tidak dapat digantikan.
Melalui cerita ini, pembaca dapat memahami pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Air bukan hanya menghidupi tubuh, tetapi juga membentuk budaya, tradisi, dan ingatan. Desa Mlorah mengajarkan bahwa keseimbangan antara manusia dan alam adalah kunci untuk mempertahankan kehidupan. Dari punden Mbah Jantho hingga sawah sawah hijau desa, air mengalir membawa pesan bahwa siapa pun yang merawat alam akan menerima keberkahan yang berkelanjutan.