Di sebuah lembah subur di wilayah Mojokerto, hiduplah seorang petani bernama Jaya. Setiap hari ia bangun sebelum matahari terbit untuk merawat sawah peninggalan keluarganya. Sawah itu dikenal luas karena hasil padinya selalu melimpah. Namun dalam beberapa musim terakhir, keberuntungan tampaknya menjauh darinya. Tikus datang dalam jumlah banyak dan menghabiskan bulir padi yang baru tumbuh. Tanah sawah pun perlahan kehilangan kesuburannya. Jaya mencoba berbagai cara untuk mengusir hama itu, tetapi semuanya gagal.Suatu malam, setelah memandangi sawah yang nyaris rusak seluruhnya, Jaya bersujud dan memohon pertolongan Sang Pencipta.
Air matanya bercampur dengan lumpur yang menempel di wajah, dan doanya mengalir panjang. Di tengah kesedihannya, ia merasakan angin hangat menyapu tubuhnya. Angin itu membawa suara lembut yang terasa seperti bisikan dari dunia lain. Suara itu memintanya pergi ke sebuah tempat purbakala yang dikenal sebagai Candi Tikus untuk mengambil air dari kolam suci di sana. Air itu harus ia bawa pulang dan ia siramkan ke empat penjuru sawahnya.Keesokan harinya Jaya berangkat menuju Candi Tikus. Tempat itu tersusun dari bata merah yang membentuk undakan bertingkat dengan kolam besar di tengahnya.
Airnya jernih seperti kaca dan memantulkan sinar matahari pagi dengan gemerlap yang menenangkan. Jaya merasakan keteduhan yang tidak biasa saat menundukkan kepala dan mengambil air dari kolam itu. Ia memasukkannya ke dalam kendi tanah liat yang selalu ia bawa saat bekerja di sawah.Tanpa menunda, Jaya kembali ke ladangnya. Ia memulai dari sudut utara dan menuangkan sedikit air sambil membisikkan doa. Kemudian ia bergerak ke sudut timur, selatan, lalu barat. Setiap tetes air seakan meresap ke dalam tanah dengan cepat. Selesai melakukan semua itu, Jaya duduk menunggu.
Ia tidak tahu apa yang harus ia harapkan. Dalam benaknya hanya ada harapan kecil bahwa sawah itu akan kembali hidup seperti dulu.Malam pun tiba. Biasanya pada jam itu suara-suara tikus terdengar jelas. Namun kali ini suasana sangat tenang. Jaya memperhatikan sekitar dan terkejut karena tidak ada satu pun hama terlihat. Tikus yang sebelumnya merusak tanaman telah lenyap seolah ditelan gelap malam. Tanah sawah yang selama ini kering dan keras mulai berubah. Paginya, permukaan tanah terlihat lebih gembur dan lembap seakan mendapat berkah dari langit.Hari demi hari kondisi sawah berubah menjadi lebih subur.
Tunas padi muncul dengan warna hijau cerah. Dalam beberapa minggu saja, Jaya merasakan kembali kehidupan yang lama hilang dari tanah warisan keluarganya. Para tetangga heran melihat perubahan itu dan bertanya apa rahasianya. Jaya tidak menyombongkan diri. Ia hanya mengatakan bahwa air dari Candi Tikus adalah karunia yang meneguhkan keyakinannya pada kekuatan alam dan restu Sang Pencipta.Sejak itu, masyarakat setempat menganggap air dari Candi Tikus memiliki peran penting sebagai sumber kehidupan yang menjaga irigasi dan kesuburan sawah mereka.
Cerita tentang Jaya dan air suci itu terus dituturkan dari generasi ke generasi. Tidak hanya sebagai legenda, tetapi sebagai pengingat bahwa alam selalu menyediakan jalan untuk memulihkan keseimbangan, selama manusia berusaha dengan tulus dan penuh doa.Begitulah kisah Candi Tikus yang tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga simbol harapan bagi para petani yang menggantungkan hidup pada air yang mengalir ke sawah mereka. Air bukan sekadar elemen alam. Dalam kisah ini air adalah penyambung kehidupan, pengusir hama, dan penumbuh harapan.