Di lereng Gunung Welirang, tempat kabut pagi turun perlahan seperti tirai tipis, terdapat sebuah air terjun yang sejak lama memikat hati banyak orang. Masyarakat menamainya Air Terjun Dlundung. Suara gemuruh airnya yang jatuh dari tebing tinggi terdengar lembut seperti lantunan alam. Airnya begitu jernih hingga bebatuan di dasar sungai terlihat jelas bak kaca bening. Namun lebih dari sekadar keindahan, Dlundung dikenal karena airnya dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Konon pada masa dahulu kala, sebelum manusia banyak tinggal di dataran Trawas, kawasan Dlundung adalah tempat pemandian para bidadari. Pada malam malam tertentu, ketika bulan penuh menggantung seperti perak di atas puncak Welirang, para bidadari turun dari kahyangan untuk mandi di bawah guyuran air terjun. Mereka berjalan di antara pepohonan pinus sambil tertawa ringan. Air yang jatuh dari tebing seakan memendarkan cahaya lembut ketika membasuh tubuh mereka. Kejernihan air Dlundung dipercaya berasal dari sentuhan para bidadari itu. Airnya membawa kesucian, keindahan, dan kekuatan penyembuh dari alam.
Tidak hanya para bidadari yang merasakan keajaiban air itu. Pada masa kerajaan kerajaan Nusantara masih berjaya, para raja dari berbagai negeri sering melakukan perjalanan ke kawasan Dlundung. Mereka datang untuk berendam di kolam alami yang terbentuk di bawah air terjun. Para raja percaya bahwa air Dlundung dapat menghilangkan rasa lelah, menyembuhkan penyakit, dan memberikan ketenangan batin. Beberapa raja bahkan membawa tabib dan prajurit untuk menjaga tempat tersebut selama mereka beristirahat.
Keberadaan para raja yang sering datang dan pergi meninggalkan banyak kisah. Warga sekitar menemukan berbagai peninggalan yang menunjukkan bahwa tempat itu pernah menjadi lokasi persinggahan para bangsawan. Ada keris yang tertanam di tanah, pecahan peralatan kuno, dan benda benda berharga lain yang terkadang muncul setelah hujan deras. Suatu ketika, seorang warga sekitar menceritakan bahwa ia pernah menemukan piring emas saat sedang mencari bambu di daerah hutan dekat air terjun. Karena tidak mengetahui nilai sebenarnya, ia menjual piring itu dengan harga sangat murah. Penyesalan itu terus ia kenang setiap kali mendengar cerita tentang para raja yang dahulu kerap berkunjung.
Wilayah sekitar Dlundung juga pernah menjadi tempat suci pemujaan. Dulu, sebelum datangnya pengaruh agama baru di Nusantara, kawasan Trawas banyak dihuni pendeta pendeta dan pengikut ajaran Buddha. Beberapa patung Buddha pernah ditemukan di sekitar air terjun, menandakan bahwa tempat ini dahulu digunakan untuk bermeditasi dan mencari ketenangan rohani. Suara air terjun yang jatuh dengan ritme teratur dipercaya membantu para pertapa mencapai kedamaian batin.
Waktu berlalu dan banyak kisah berubah menjadi legenda, tetapi keyakinan mengenai air penyembuh Dlundung tidak pernah hilang. Hingga kini, orang orang dari berbagai daerah datang untuk mandi di bawah air terjun. Mereka percaya bahwa air yang jatuh dari puncak tebing membawa berkah dan dapat menyembuhkan penyakit, baik penyakit tubuh maupun penyakit hati. Beberapa pengunjung bercerita bahwa rasa pusing dan lelah hilang setelah berendam di air yang dingin dan segar itu. Ada pula yang merasa mendapat kekuatan baru seolah air tersebut membangkitkan energi yang telah lama padam.
Demikianlah kisah asal usul Air Terjun Dlundung. Tempat ini bukan hanya keindahan alam semata, tetapi juga warisan cerita yang mengalir dari generasi ke generasi. Airnya yang jernih dipercaya membawa kekuatan penyembuhan dan menjadi saksi bisu perjalanan para bidadari, raja raja, serta pendeta yang pernah menghuni wilayah itu. Hingga sekarang, Dlundung tetap menjadi permata di lereng Welirang, tempat di mana air menghidupkan harapan dan menyembuhkan luka yang tidak selalu terlihat oleh mata.