Desa Sonoageng

URL Cerital Digital: https://radarkediri.jawapos.com/nganjuk/783232754/jelajah-desa-unik-di-nganjuk-pohon-sono-raksasa-menjelma-menjadi-beringin

Di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sonoageng di Kecamatan Prambon, Nganjuk, berdiri kisah lama yang tumbuh bersama pohon pohon besar dan legenda para pendahulu. Nama desa ini tidak lahir dari sekadar keinginan masyarakat, melainkan dari sebuah pohon raksasa yang pernah berdiri sebagai penanda alam dan tempat bernaung para pembuka wilayah. Pohon itu adalah pohon sono, tanaman besar yang kayunya terkenal kuat, daunnya rimbun, dan beberapa bagian dari pohon itu dahulu dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional.

Cerita mengenai asal usul desa ini dijaga oleh seorang juru kunci makam Sonoageng bernama Tohar. Pada usia enam puluh enam tahun, ia menjadi penjaga ingatan tentang masa lalu desa. Ia menyebut bahwa dahulu di tengah pemakaman Sonoageng berdiri sebuah pohon sono berukuran luar biasa besar. Batangnya begitu kokoh hingga memerlukan banyak orang untuk memeluknya, sementara dahannya menjulang tinggi seolah hendak menyentuh langit. Pohon itu telah hidup selama ratusan tahun dan menjadi saksi berbagai peristiwa yang terjadi di desa.

Namun seiring berjalannya waktu, usia pohon itu mencapai batasnya. Pohon sono yang dahulu megah itu akhirnya mati. Masyarakat yang merasa kehilangan kemudian menebangnya untuk mencegah kerusakan. Tetapi alam selalu punya cara menjaga keseimbangan. Dari akar yang tertinggal, tumbuhlah sebuah pohon lain yang tak kalah kuat. Pohon itu adalah beringin. Ia tumbuh perlahan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan pohon sono, hingga kini berdiri menjadi penjaga baru makam Sonoageng. Bagi masyarakat, beringin itu bukan pohon biasa, melainkan simbol kelanjutan dari pohon sono yang dulu menjadi pusat kehidupan desa.

Tohar kemudian bercerita bahwa pohon sono besar yang menjadi asal usul desa ini memiliki hubungan erat dengan tokoh yang membabat alas wilayah itu, yaitu Raden Said. Ia adalah sosok yang membuka hutan Sonoageng hingga menjadi tempat tinggal manusia. Setelah bekerja membersihkan alas, Raden Said kerap beristirahat di bawah pohon sono raksasa tersebut. Tempat itu menjadi lokasi ia melepas lelah, memandang hamparan lahan yang baru dibuka, dan merasakan hembusan angin yang menenangkan. Karena itulah pohon sono dikenal sebagai tempat leyeh leyeh Mbah Said, sapaan masyarakat untuk dirinya.

Seiring bertambahnya penduduk dan terbentuknya komunitas yang menetap di wilayah tersebut, masyarakat mulai mengenali pohon sono itu sebagai lambang desa. Besarnya pohon itu bukan hanya menggambarkan ukurannya, tetapi juga besarnya peran pohon tersebut dalam perjalanan hidup para pendahulu. Dari alasan itu, mereka memberi nama desa tersebut sebagai Sonoageng. Kata sono merujuk pada pohon asalnya, dan kata ageng berarti besar. Nama ini menjadi representasi dari pohon raksasa yang dahulu menjadi kerasan bagi Raden Said dan masyarakat yang datang kemudian.

Pohon sono yang besar tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga nilai fungsional dalam kehidupan masyarakat lama. Beberapa bagian pohon sono dapat digunakan sebagai obat tradisional, seperti daun atau kulit batangnya yang diyakini membantu meredakan rasa sakit atau mengatasi gangguan tertentu. Masyarakat yang hidup dekat dengan alam memahami bahwa setiap pohon memiliki manfaat, dan pohon sono menjadi bagian penting dari pengetahuan itu. Pohon ini tidak hanya memberikan keteduhan, tetapi juga kehidupan.

Kini pohon sono itu telah tiada, namun warisan sejarahnya tetap tumbuh melalui pohon beringin yang menggantikannya. Beringin itu berdiri tegap sebagai pengingat bahwa alam selalu menyertai perjalanan manusia. Ia juga menjadi tempat yang dihormati, dikunjungi dengan penuh rasa syukur, dan dilestarikan oleh masyarakat Sonoageng.

Kisah Desa Sonoageng mengajarkan bahwa sejarah suatu tempat sering kali lahir dari hubungan manusia dengan alam. Pohon bukan sekadar tumbuhan, tetapi penanda perjalanan, tempat istirahat, sumber obat, dan penanda identitas. Raden Said menemukan rumah barunya di bawah pohon sono. Masyarakat desa kemudian menemukan identitas mereka dari pohon yang sama. Dari pohon yang mati, tumbuh pohon lain yang terus hidup, seolah mengajarkan bahwa segala sesuatu akan berganti namun tetap memiliki akar yang sama.

Melalui cerita ini, pembaca dapat merenungkan bahwa kearifan lokal tidak terpisah dari alam. Desa Sonoageng berdiri dari kesadaran masyarakat menghormati pohon sebagai bagian dari kehidupan. Pohon sono dan beringin yang menggantikannya adalah simbol bahwa alam akan selalu memberi jika manusia menjaga. Pesan ini menjadi warisan bagi generasi penerus agar senantiasa hidup dalam harmoni dengan alam sebagai sumber kehidupan dan penjaga sejarah.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.