Di antara pepohonan rimbun di Desa Sensi, Kecamatan Pacet, mengalir sebuah air terjun yang dikenal dengan nama Air Terjun Watu Lumpang. Suaranya menggema lembut ketika airnya jatuh menyentuh bebatuan. Kabut tipis selalu muncul saat pagi, menari bersama embun yang menempel di daun daun pinus. Keindahan itu membuat siapa saja yang datang merasakan ketenangan sejak langkah pertama mereka memasuki kawasan hutan.
Namun lebih dari sekadar pemandangan yang menawan, Watu Lumpang menyimpan kisah lama yang diwariskan dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Konon tempat ini dahulu merupakan bagian dari perkampungan kuno. Dalam cerita turun temurun, para putri kerajaan sering mendatangi tempat itu untuk mandi dan bersantai. Mereka datang bersama dayang dayang, menuruni jalan setapak sambil membawa kendi, bunga wangi, dan kain halus. Tawa para putri sering terdengar bergema di antara tebing ketika mereka membasuh wajah dengan air yang jatuh dari ketinggian.
Bebatuan di sekitar air terjun memiliki bentuk yang tidak biasa. Ada yang mirip lumpang tempat menumbuk padi dan ada pula yang menyerupai genting. Masyarakat percaya bahwa batu batu itu dulunya merupakan bagian dari peralatan yang digunakan para penghuni perkampungan Majapahit. Mungkin para putri duduk di atasnya saat merias diri atau para pelayan menggunakannya untuk menampung air mandi. Bentuknya yang unik menjadi bukti bisu bahwa tempat itu pernah dihuni oleh kalangan bangsawan.
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, banyak batu tersebut telah tertimbun tanah. Pepohonan tumbuh semakin rimbun dan akar akar besar perlahan menutup jejak masa lalu. Hanya cerita warga dan legenda turun temurun yang kini menjadi penjaga sejarahnya. Meski demikian, air terjun tetap berdiri seperti saksi abadi yang mengingatkan bahwa pernah ada kehidupan kerajaan di tempat itu.
Air Terjun Watu Lumpang bukan hanya memikat karena kisah lamanya. Airnya juga menjadi sumber kehidupan bagi warga sekitar. Dari mata air di hulu, aliran air diteruskan melalui saluran kecil yang mengairi persawahan di bawah lereng. Tanaman padi tumbuh subur karena irigasi alami ini berjalan sepanjang tahun. Para petani merasa bersyukur karena meski musim kemarau panjang kadang datang, air dari Watu Lumpang jarang surut. Mereka percaya bahwa aliran itu adalah berkah dari alam yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
Selain memberikan air bagi sawah, Watu Lumpang juga menjadi sumber air bersih bagi penduduk desa. Banyak keluarga yang menggantungkan kebutuhan harian mereka pada mata air yang jernih itu. Airnya dingin, segar, dan rasanya seolah membawa kesucian dari zaman kuno. Masyarakat setempat menganggapnya sebagai hadiah alam yang tidak boleh dikotori.
Dengan keindahan alam dan daya tarik ceritanya, Watu Lumpang lambat laun berkembang menjadi tempat wisata. Para pengunjung datang untuk menikmati udara segar, berjalan melalui jalur hutan, dan merasakan percikan air terjun di wajah mereka. Banyak wisatawan terpesona oleh suasana yang tenang, seakan waktu berjalan lebih lambat di tempat ini. Mereka duduk di batu batu besar, mendengarkan gemuruh air dan membayangkan bagaimana para putri Majapahit dulu mandi di tempat yang sama.
Masyarakat desa melihat peluang itu dengan bijaksana. Mereka menjaga kebersihan alam, membangun jalur wisata yang aman, serta mendirikan warung kecil untuk menyambut pendatang. Kehadiran wisatawan membuat ekonomi desa semakin hidup tanpa mengurangi kesucian lingkungan yang sudah mereka pelihara turun temurun.Demikianlah kisah Air Terjun Watu Lumpang. Ia adalah perpaduan antara sejarah, sumber kehidupan, dan keindahan alam. Airnya mengalir membawa cerita masa lalu, menyuburkan sawah sawah, memenuhi kebutuhan warga, dan mengundang wisatawan untuk menikmati kedamaian alam Mojokerto. Hingga kini Watu Lumpang tetap berdiri sebagai warisan alam dan legenda yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.