Desa Duyung di Kecamatan Trawas menyimpan sebuah legenda yang berakar dari masa perjuangan Pangeran Diponegoro. Konon, seorang prajurit bernama Ki Agung Ronggowarsito melarikan diri ke wilayah yang kini menjadi Desa Duyung. Ia membawa sebuah minyak sakti yang terkenal mampu menyembuhkan penyakit. Orang-orang sakit dari berbagai penjuru datang dengan langkah terhuyung-huyung untuk memohon pertolongan. Karena banyaknya warga yang sembuh berkat minyak tersebut, masyarakat menjulukinya minyak duyung. Sejak itu, Ki Agung Ronggowarsito dikenal sebagai Mbah Duyung.
Kedatangan banyak pendatang yang ingin menetap membuat Ki Agung Ronggowarsito membuka lahan di kawasan itu. Ia melakukan babat alas untuk membangun permukiman baru yang kemudian berkembang menjadi desa. Nama Desa Duyung dipilih sebagai penanda legenda minyak penyembuh yang pernah menghidupi harapan masyarakat. Desa ini berdiri di antara dua gunung, yaitu Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan, sehingga memiliki udara sejuk dan lingkungan yang dikelilingi hutan alami.
Seiring berkembangnya desa, Duyung terbagi menjadi dua dusun yaitu Dusun Duyung dan Dusun Bantal. Kawasan ini memiliki luas sekitar 223 hektare dengan batas wilayah berupa hutan Perhutani, Desa Kesiman, Desa Penanggungan, dan Desa Belik. Ketinggian desa mencapai sekitar 700 meter di atas permukaan laut sehingga menjadikannya dataran tinggi dengan suhu yang relatif sejuk. Pada tahun 2014, jumlah penduduk mencapai lebih dari seribu jiwa dengan mayoritas bermata pencaharian sebagai petani.
Legenda minyak duyung yang dapat menyembuhkan penyakit tetap diwariskan secara lisan oleh masyarakat setempat. Meski minyak sakti itu tidak lagi ditemukan, cerita tentang Mbah Duyung tetap hidup sebagai pengingat bahwa desa ini bermula dari harapan dan penyembuhan. Nilai itu turut membentuk karakter masyarakatnya yang ramah dan memegang kuat tradisi leluhur. Bagi warga, minyak duyung bukan sekadar kisah masa lalu tetapi simbol perlindungan dan keberkahan yang menyertai desa mereka sejak awal.
Kini Desa Duyung dikenal memiliki berbagai potensi wisata dan perkebunan seperti durian, pisang, dan salak. Selain itu, terdapat pula sejumlah situs budaya seperti punden dan Sawah Lumpang yang menguatkan identitas sejarah desa. Namun, tantangan tetap ada seperti akses jalan dan sistem pengairan yang perlu peningkatan. Melalui pemanfaatan wisata alam dan perbaikan fasilitas, Desa Duyung perlahan membangun masa depan yang lebih cerah tanpa melupakan legenda minyak penyembuh yang menjadi fondasi lahirnya desa tersebut.